Pangkalpinang

Cawawako Pangkalpinang Adu Gagasan soal Masa Depan Pasar Tradisional

×

Cawawako Pangkalpinang Adu Gagasan soal Masa Depan Pasar Tradisional

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, DAN – Persoalan pasar tradisional menjadi salah satu topik penting dalam debat Pilkada Pangkalpinang ulang 2025, Selasa (19/8/2025). Merujuk data BPS, jumlah pasar tradisional di Pangkalpinang hanya empat unit, jauh lebih sedikit dibanding pasar modern yang mencapai 186 unit. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang strategi penguatan pasar tradisional sebagai bagian dari ekonomi kerakyatan.

Calon Wakil Wali Kota nomor urut 2, Zeki Yamani menekankan pentingnya regulasi sebagai payung hukum dalam pengelolaan pasar.

“Aturan dan regulasi harus kita buatkan dulu, biar semuanya akan terlindungi, UMKM tidak merasa terbebani. Kedua, kami ingin membuat fasilitas yang memadai, kalau tidak ada fasilitas bagaimana mau banyak pasar,” ujarnya.

Zeki juga menyinggung proses Raperda RTRW yang masih dalam evaluasi, sebagai dasar dalam tata kelola pasar.

Sementara itu, calon nomor urut 3, Dessy Ayu Trisna menyoroti persoalan klasik Pasar Pagi yang hingga kini belum teratasi. Ia menyampaikan rencana pengembangan pasar agar lebih tertata, termasuk pemanfaatan lantai kosong di gedung pasar.

“Lapak harus diberi aturan agar berjualan secara rapi. Kami juga akan menguji kapasitas di beberapa kecamatan yang belum punya pasar, apakah memungkinkan dibangun pasar baru,” katanya.

Calon nomor urut 4, Dede Purnama menilai revitalisasi pasar pemerintah dan pasar tumpah harus dilakukan secara menyeluruh. Menurutnya, pasar tidak boleh terkesan kumuh dan kelembagaannya perlu diperkuat.

“Pasar yang dimiliki Pemda ada empat, pasar tumpah ada tujuh. Pasar pemda harus direvitalisasi fisiknya agar maju dan modern, sementara pasar tumpah akan kita hadirkan sesuai kebutuhan masyarakat,” paparnya.

Adapun calon nomor urut 1, Radmida Dawam menegaskan, pasar tradisional tetap relevan meski keberadaan pasar modern semakin dominan.

“Pasar tradisional masih sangat dibutuhkan, tidak semua masyarakat mau belanja di pasar modern. Untuk lebih baik lagi, maka pasar tradisional harus ditata rapi, jangan dihapuskan, karena kenyamanan tidak selalu identik dengan modern,” tegasnya. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *