PANGKALPINANG, DAN – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Hidayat Arsani bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meninjau langsung sejumlah kelenteng di Pangkalpinang, Senin (16/02/2026) malam, guna memastikan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Babel berlangsung aman, tertib, dan meriah. Peninjauan difokuskan pada dua pusat kegiatan ibadah dan perayaan masyarakat Tionghoa, yakni Kelenteng Fuk Tet Che dan Kelenteng Kwan Tie Miau.
Kehadiran rombongan pemerintah daerah dan aparat keamanan dilakukan untuk memastikan kesiapan pengaturan arus jamaah, pengamanan lokasi, serta kelancaran rangkaian perayaan.
Gubernur mengatakan, kunjungan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah menjaga kenyamanan masyarakat sekaligus memperkuat kerukunan antarumat beragama.
“Kami datang langsung untuk memastikan semua berjalan aman, sehat, dan sesuai harapan kita bersama. Kepada umat yang merayakan, kami mengucapkan Gong Xi Fa Cai. Semoga masyarakat semakin sehat, rezeki melimpah, dan tahun ini menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Rombongan sebelumnya berkumpul di Mapolda Babel sebelum bergerak bersama ke lokasi. Turut mendampingi antara lain Kapolda Babel Viktor Theodorus Sihombing dan perwakilan Danrem 045/Garuda Jaya.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi di kawasan kelenteng dengan kehadiran warga dari berbagai latar belakang budaya yang menyaksikan atraksi barongsai. Momentum ini sekaligus menghidupkan kembali filosofi lokal “Tongin Fangin Jit Jong” yang melambangkan persatuan masyarakat Tionghoa dan Melayu.
Ketua Pengurus Kelenteng Kwan Tie Miau, Hendri Kurniawan mengapresiasi kunjungan tersebut.
“Terima kasih kepada Gubernur dan jajaran pimpinan daerah yang hadir langsung ke kelenteng kami. Kehadiran ini memberi rasa aman bagi masyarakat. Bangka Belitung adalah daerah yang istimewa, di mana semua suku berbaur dan merayakan kebersamaan,” ujarnya.
Kehadiran pimpinan daerah bersama unsur Forkopimda dinilai bukan sekadar pengamanan seremonial, melainkan penegasan bahwa toleransi, persatuan, dan keberagaman tetap menjadi fondasi kehidupan sosial di Babel. (*/red)














