BangkaDaerahPendidikan & Budaya

Mahasiswa UBB Dalami Plasma Nutfah Anggrek di Kampung Daun

×

Mahasiswa UBB Dalami Plasma Nutfah Anggrek di Kampung Daun

Sebarkan artikel ini

BANGKA, DAN – Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Bangka Belitung (UBB) melakukan kunjungan edukatif ke penangkaran anggrek spesies khas Bangka di Kampung Daun, Desa Penyamun, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, pada 17–20 September 2024 ini, bertujuan mempelajari plasma nutfah anggrek sekaligus memahami upaya pelestarian tanaman lokal.

Penangkaran Kampung Daun dikelola oleh pasangan suami istri, Dian dan Tulis. Selain membudidayakan anggrek, mereka juga mengembangkan tanaman hutan khas Bangka Belitung, seperti seruk, pelawan, dan waru. Latar belakang pendirian penangkaran ini berangkat dari keprihatinan terhadap maraknya penambangan yang mengancam ekosistem serta habitat flora lokal.

“Anggrek lokal Bangka Belitung perlu dijaga kelestariannya. Puluhan hingga ratusan spesies masih terdapat di Pulau Bangka, mulai dari epifit, semi epifit, hingga terestrial. Kami berupaya agar tidak punah,” kata Tulis.

Dian menambahkan, hingga kini sebanyak 142 spesies anggrek telah berhasil diselamatkan, meskipun 42 di antaranya belum teridentifikasi secara ilmiah. Ia juga telah menerbitkan buku yang mendokumentasikan 60 spesies anggrek lokal. Menurutnya, anggrek khas Bangka Belitung memiliki nilai penting, baik dari sisi keanekaragaman hayati maupun potensi ekonomi.

“Bangka Belitung jangan hanya dikenal dengan seribu kolong, tetapi juga dengan kekayaan spesies anggreknya. Jika satu anggrek terjual dengan nilai tinggi, maka sembilan lainnya bisa kami selamatkan,” ujar Dian.

Tak hanya sebagai pusat penangkaran, Kampung Daun juga dikembangkan menjadi sarana edukasi. Fasilitas bacaan, taman bermain, dan ruang belajar disediakan untuk masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh tentang anggrek dan tanaman lokal. Moto yang diusung adalah “Membangun inspirasi dengan keragaman dan keberagaman hingga timbul kreativitas.”

Tulis menekankan pentingnya regenerasi pengetahuan tentang flora khas Bangka Belitung. Ia mencontohkan, banyak generasi muda tidak lagi mengenal pohon-pohon yang menjadi asal nama daerah, seperti Tukak, Pelempah, dan Jelutung, karena semakin langka.

Ke depan, Kampung Daun ditargetkan menjadi pusat pembelajaran, pelestarian, sekaligus destinasi rekreasi. Dian juga berkomitmen memperkenalkan anggrek khas Bangka Belitung di tingkat nasional hingga internasional melalui berbagai pameran. Penangkaran ini rencananya akan diresmikan pada tahun mendatang. (*/ubb.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *