BANGKA, DAN – Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMABIO) Universitas Bangka Belitung (UBB) kembali menggelar International Webinar 4 Series. Memasuki Series ke-2, webinar ini mengangkat topik relevan bagi Bangka Belitung: “The Benefits of Palm Oil Waste for Reclaiming Former Tin Mining Land”.
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini diikuti 158 peserta dari berbagai perguruan tinggi, sekolah, dan institusi dalam dan luar negeri. Antara lain Universitas Bangka Belitung, Universitas Pattimura, Universitas Nasional, Universitas Lambung Mangkurat, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Jember, Universitas Borneo Tarakan, Universitas Sriwijaya, Universitas Ahmad Dahlan, Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang, serta perwakilan internasional dari AMINEV USA.
Tingginya partisipasi menunjukkan perhatian besar akademisi terhadap isu lingkungan dan reklamasi pasca-tambang. Acara dibuka MC Dava Febiola, mahasiswi semester I Biologi UBB, dan dipandu moderator Dr. Eddy Nurtjahya, M.Sc. Hadir sebagai pembicara, David Robert Holdridge, B.S. dari AMINEV USA, yang memaparkan riset terkini mengenai pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk memulihkan lahan bekas tambang timah.
Dalam pemaparannya, Holdridge menjelaskan limbah sawit seperti tandan kosong (empty fruit bunch/EFB), serabut inti (palm kernel fiber/PKF), dan kompos mampu memperbaiki kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah yang rusak akibat tambang. Ia mencontohkan studi di Kosta Rika, di mana limbah kulit jeruk mempercepat pemulihan hutan tropis. Konsep serupa kini diterapkan di Bangka Belitung dengan memilih serai wangi (Cymbopogon nardus) sebagai tanaman pionir yang bernilai ekonomi.
“Pemanfaatan limbah pertanian berbiaya rendah seperti sawit dapat menjadi solusi restorasi berkelanjutan. Selain ekologis, juga memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat,” ujar Holdridge.
Webinar berlangsung interaktif dengan 15 penanya aktif sejak sesi tanya jawab pukul 11.13 WIB. Diskusi mencakup dampak pH tanah dan logam berat, peran limbah sawit dalam menekan emisi karbon, pemilihan tanaman pionir pasca-tambang, hingga fenomena air kolong tambang yang berwarna biru. Sejumlah peserta teraktif seperti Diana Anggraini, Ragita Sahendra, Zamila Nurizah, Siti Nabila, Betty Putri Azkia, dan Yafiq Muhransyah turut mendapat apresiasi.
Jawaban para narasumber menegaskan bahwa reklamasi pasca-tambang tidak sekadar memperbaiki tanah, melainkan membangun ekosistem baru yang produktif dan berkelanjutan. Acara ditutup pukul 12.05 WIB dengan penyerahan sertifikat apresiasi untuk pembicara dan moderator, sesi foto bersama, serta penayangan video promosi Biozone 11th International.
Ketua HIMABIO UBB menyatakan kebanggaannya atas suksesnya acara ini. “Kami bangga bisa menghadirkan narasumber internasional yang membahas solusi konkret untuk reklamasi tambang di Bangka Belitung. Semoga ilmu ini menginspirasi penelitian lebih lanjut di UBB maupun kampus lain,” ujarnya.
Setelah suksesnya Series 2, publik kini menantikan kehadiran Webinar Internasional Series 3 dan 4 yang segera digelar HIMABIO UBB. (*/ubb.ac.id)













