BelitungDaerahFeatureHeadlinePendidikan & Budaya

Kisah Penerima Beasiswa KIP-K dari Belitung, Simay Menjemput Cita-Cita Menjadi Dokter di Kampus UBB

×

Kisah Penerima Beasiswa KIP-K dari Belitung, Simay Menjemput Cita-Cita Menjadi Dokter di Kampus UBB

Sebarkan artikel ini

SUDUT tenang di Desa Juru Sebrang, Belitung, hidup seorang gadis muda yang kini namanya mulai menjadi harapan dan inspirasi banyak orang. Dialah Siti Maisyaroh, atau yang akrab disapa Simay, putri nelayan yang menantang keterbatasan untuk menggapai mimpi besar, menjadi dokter dan mengabdi di kampung halamannya.

Lahir dari keluarga sederhana, dengan ayahnya, Jumadi, yang setiap hari mengarungi laut, dan ibunya, Mardiana, yang setia menjaga rumah, Simay tumbuh dalam suasana penuh keprihatinan namun kaya akan harapan. Di tengah segala keterbatasan akses dan fasilitas pendidikan di desanya, ia tetap menorehkan prestasi demi prestasi selama menempuh pendidikan di MAN 1 Tanjungpandan.

Kini, perjuangan panjang itu berbuah manis. Di usianya yang ke-19, Simay berhasil menembus ketatnya seleksi Program Studi Kedokteran Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui jalur SNBT. Tak hanya itu, ia juga dinyatakan sebagai penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), program yang memberikan pembiayaan penuh, termasuk biaya hidup dan pendidikan hingga program profesi dokter muda.

“Saya ingin kembali ke kampung dan membuka praktik dokter di sini. Banyak warga yang harus ke kota hanya untuk pengobatan dasar. Itu jadi dorongan saya sejak kecil,” tutur Simay penuh haru, saat diwawancarai di rumahnya usai kunjungan simbolik dari Rektor UBB dan Bupati Belitung.

Kunjungan itu menjadi momen emosional. Simay dipakaikan jas almamater kebanggaan mahasiswa UBB, tanda bahwa ia kini resmi menjadi bagian dari Kampus Peradaban, istilah yang disematkan UBB sebagai simbol dedikasi mereka membuka akses pendidikan tinggi bagi seluruh anak bangsa.

Rektor UBB, Prof. Ibrahim menyampaikan kebanggaannya atas capaian Simay.

“Kami bangga ada mahasiswa seperti Siti dari daerah pesisir yang mampu bersaing secara akademik. Ini membuktikan bahwa potensi anak bangsa ada di mana-mana, tinggal bagaimana kita membukakan pintunya,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Bupati Belitung, H. Djoni Alamsyah Hidayat yang menyebut Simay sebagai contoh nyata bahwa pendidikan bisa menjangkau siapa saja, asal ada kemauan dan kerja keras.

“Manfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh, jadilah kebanggaan Bapak dan Ibu. Masyarakat Belitung menunggu pengabdianmu. Ini bukti bahwa anak desa pun bisa jadi dokter,” pesannya penuh harap.

Simay bukan hanya menembus universitas, ia menembus batas. Di matanya, gelar dokter bukan sekadar profesi, tetapi jalan pulang. Sebuah ikhtiar untuk kembali dan merawat kampung halamannya yang selama ini sepi layanan kesehatan.

Kini langkah awal sudah dimulai. Di bawah naungan langit Belitung yang biru, diiringi restu keluarga, guru, dan masyarakat, Simay melangkah menuju cita-cita besarnya. Ia bukan sekadar mahasiswa baru. Ia adalah simbol harapan bahwa mimpi besar tak mengenal jarak, dan pendidikan tinggi bukan milik kota semata. (*/ubb.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *