BangkaDaerahFeaturePangkalpinangPendidikan & BudayaTeknologi

Kolaborasi UBB dan Warga Bukit Besar, Inovasi Mesin Maggot Atasi Sampah Organik di Pangkalpinang

×

Kolaborasi UBB dan Warga Bukit Besar, Inovasi Mesin Maggot Atasi Sampah Organik di Pangkalpinang

Sebarkan artikel ini

DI TENGAH tumpukan persoalan sampah organik yang terus menggunung di Kota Pangkalpinang, secercah harapan datang dari sudut kecil di Kelurahan Bukit Besar. Sebuah mesin pembubur pakan maggot, hasil rancangan kolaboratif Universitas Bangka Belitung (UBB), resmi diserahkan kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sahabat Farm. Mesin sederhana ini bukan hanya simbol kemitraan antara kampus dan warga, tetapi juga jawaban nyata atas masalah pengelolaan sampah organik yang selama ini tak terurus secara sistematis.

Serah terima dilakukan dalam suasana akrab, dihadiri oleh berbagai pihak, dari perwakilan Kecamatan Girimaya, Lurah Bukit Besar Yudarni, S.H., M.H., Ketua KSM Sahabat Farm Didik Sugianto, hingga tim Pengabdian Tingkat Universitas (PMTU) UBB yang terdiri dari Ir. Eka Sari Wijianti, S.Pd., M.T. selaku Ketua, serta anggota Dr. Ir. Ismed Inonu, M.Si., Ir. Saparin, S.T., M.Si., Dr. Endang Bidayani, S.Si., M.Si., dan mahasiswa Teknik Mesin UBB.

Dalam sambutannya, Lurah Bukit Besar, Yudarni menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Menurutnya, sampah adalah salah satu isu utama di Pangkalpinang.

“Terima kasih kepada UBB yang telah menghadirkan solusi nyata melalui mesin ini. Meski baru skala kelurahan, kami berharap teknologi ini bisa menjangkau tingkat kecamatan bahkan kota,” ujarnya.

Yudarni juga menegaskan pentingnya kesinambungan kolaborasi antara akademisi dan masyarakat.

“Kebutuhan masyarakat terus berubah. Pengabdian kampus seperti ini penting untuk memastikan solusi yang ditawarkan relevan dan adaptif,” tambahnya.

Bagi Ketua KSM Sahabat Farm, Didik Sugianto, mesin ini bukan sekadar alat. Ia adalah penopang mimpi besar yang tengah dibangun bersama warga, menjadikan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi lokal terhadap limbah organik.

“Selama ini terlalu banyak sampah organik yang terbuang sia-sia. Padahal, jika dibiarkan membusuk, gas metana yang dihasilkan dapat merusak lapisan ozon. Maggot menawarkan cara yang lebih aman, cepat, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Lebih jauh, Didik menekankan bahwa edukasi adalah kunci dari perubahan.

“Kami ingin membangun kesadaran, tidak hanya memproduksi pakan maggot. Mesin ini bagian dari perjalanan panjang membentuk perilaku baru dalam mengelola sampah rumah tangga.”

Mesin buatan UBB tersebut dirancang khusus untuk mengolah sampah organik menjadi pakan maggot yang higienis, efisien, dan cepat terurai. Sistem ini tidak hanya menghasilkan pakan berkualitas, tetapi juga mampu secara signifikan menekan volume sampah organik rumah tangga. Dalam kesempatan itu, pelatihan penggunaan mesin juga diberikan langsung oleh tim teknis UBB, yang disambut antusias oleh peserta.

Bagi tim PMTU UBB, pengabdian ini bukan semata agenda tahunan, tapi bagian dari peran strategis perguruan tinggi dalam memecahkan persoalan nyata masyarakat.

“Kita ingin teknologi tepat guna hadir dan bekerja di tangan warga. Ini bukan tentang alat canggih, tapi tentang kebermanfaatan langsung yang bisa dirasakan,” ungkap Ir. Eka Sari Wijianti, mewakili tim Pengabdian Tingkat Universitas (PMTU) UBB.

Inisiatif ini menegaskan bahwa solusi tidak selalu datang dari pusat kota atau ruang laboratorium canggih. Kadang, ia lahir dari sinergi akar rumput—dari tangan-tangan yang rela bekerja sama, dari komunitas yang peduli akan lingkungannya.

Di ruang kecil milik Sahabat Farm, suara mesin pembubur kini bukan hanya denting logam yang berputar, tetapi gema harapan akan Pangkalpinang yang lebih bersih dan mandiri. Sebuah langkah kecil, namun menjanjikan perubahan besar—dimulai dari satu sampah organik, satu maggot, satu aksi bersama. (*/ubb.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *