KISAH sudut asrama Pemali Boarding School, seorang gadis remaja tengah merapikan seragam putih-abu yang akan menemaninya menempuh perjalanan tiga tahun ke depan. Namanya Sarah Syazana Aghina. Usianya baru 15 tahun, tapi keberaniannya melampaui usianya. Jauh dari Kundur, Kepulauan Riau, ia menjejakkan kaki seorang diri di Pulau Bangka, membawa mimpi dan harapan besar dari kampung halamannya.
“Aku cuma ingin membuktikan kalau aku bisa mandiri,” kata Sarah, matanya berkaca, suaranya pelan tapi pasti.
“Dulu aku cuma bisa berharap diterima. Sekarang aku bersyukur sekali sudah jadi bagian dari Pemali Boarding School.”
Sarah adalah satu dari 36 siswa-siswi terpilih yang berhasil lolos dalam program beasiswa pendidikan jenjang SMA Pemali Boarding School PT Timah Tbk tahun ajaran 2025/2026. Mereka datang dari berbagai provinsi di wilayah operasional perusahaan, seperti Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, hingga Riau. Mereka tak hanya menembus seleksi administrasi, tapi juga berhasil melewati berbagai tes kesehatan, psikotes, potensi akademik hingga survei lapangan.
Program beasiswa ini bukan sekadar fasilitas pendidikan gratis. Ini adalah wadah pembentukan karakter. Di asrama, mereka tak hanya diajari pelajaran sekolah, tapi juga nilai-nilai kedisiplinan, kepemimpinan, dan kemandirian. Sekolah dan asrama menjadi rumah kedua, tempat mereka bertumbuh menjadi pribadi tangguh.
Kepala SMA Negeri 1 Pemali, Eflina, menyambut hangat para siswa baru dari berbagai penjuru.
“Semangat mereka luar biasa,” katanya.
“Saya melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri anak-anak ini. Mereka berani, percaya diri, dan sudah terlihat punya mental seorang pemimpin.”
Selama lebih dari dua dekade, program beasiswa Pemali Boarding School telah menjadi bagian dari komitmen PT Timah untuk membangun masa depan generasi muda di lingkar tambang. Pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tapi juga tentang menciptakan peluang dan menumbuhkan karakter.
Bagi Sarah dan teman-temannya, beasiswa ini lebih dari sekadar fasilitas. Ini adalah tiket menuju masa depan, sebuah jalan panjang yang mungkin tak akan pernah terbuka tanpa keberanian untuk mencoba.
“Kalau bukan karena PT Timah, mungkin aku nggak bisa sekolah sebagus ini. Aku ingin jadi kebanggaan untuk keluarga dan buktikan bahwa anak dari pulau kecil juga bisa bermimpi besar,” ujar Sarah dengan senyum kecil.
Di tengah semilir angin Pemali yang tenang, langkah Sarah baru saja dimulai. Tapi semangatnya sudah menunjukkan arah: bahwa dengan tekad dan kesempatan, masa depan bisa diraih, sejauh apapun titik mula kita berasal. (*/timah.com)













