BANGKA, DAN – Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung melakukan kunjungan kerja sama ke Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Bangka Belitung (UBB) untuk menjajaki potensi kolaborasi lintas disiplin antara seni, budaya, dan kesehatan. Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan strategis yang berorientasi pada penelitian dan pengembangan program integratif demi mendukung kesejahteraan masyarakat.
Tim peneliti ISBI Bandung dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Rustiyanti, dosen senior sekaligus ketua tim peneliti, didampingi oleh dua anggota, yakni Dr. Wanda Listiani, M.Ds., dan Anrilia E.M. Ningdyah, Ph.D., Psikolog. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat di lingkungan FKIK UBB, Prof. Sri menyampaikan ketertarikan ISBI untuk mengembangkan program riset yang menggabungkan pendekatan seni dan budaya dalam konteks kesehatan.
Menurut Prof. Sri, seni dan budaya dapat memberikan kontribusi signifikan dalam dunia kesehatan, mulai dari terapi seni, promosi kesehatan berbasis budaya, hingga pendekatan holistik terhadap kesejahteraan individu. Hal ini mendapat sambutan positif dari Dekan FKIK UBB, Dr. Ir. Ismed Inonu, M.Si., yang menilai kolaborasi ini sejalan dengan kebutuhan pendekatan multidisipliner dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan modern.
Diskusi awal mencakup rencana penelitian bersama serta pertukaran pengetahuan antar institusi. Dr. Wanda Listiani menambahkan bahwa kolaborasi ini membuka peluang besar untuk eksplorasi riset-riset inovatif yang selama ini belum banyak digarap. Sementara itu, Anrilia menekankan pentingnya pendekatan psikologi dalam memahami pengaruh seni dan budaya terhadap kesehatan mental dan emosional, terutama dalam konteks pendampingan atlet sebelum, saat, dan setelah bertanding.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas peran penting ilmu kesehatan dalam penanganan cedera atlet pencak silat, olahraga yang rentan terhadap cedera pada sendi dan tulang. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi menjadi fondasi utama dalam mengidentifikasi dan menangani berbagai jenis cedera secara tepat. Para dosen FKIK UBB turut memberikan masukan mengenai standar penanganan cedera akut serta prinsip pertolongan pertama yang harus diajarkan kepada para pelatih dan atlet.
Aspek psikologi olahraga juga mendapat sorotan penting, mengingat cedera fisik seringkali diikuti oleh dampak psikologis seperti kecemasan, trauma, dan kehilangan kepercayaan diri. Psikolog olahraga berperan dalam membangun kembali kesiapan mental atlet agar dapat kembali tampil optimal. Hal ini sangat relevan dengan fokus penelitian tim ISBI yang ingin melihat seni dan budaya sebagai medium penyembuhan dan pemberdayaan.
Kunjungan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi kerja sama berkelanjutan antara ISBI Bandung dan FKIK UBB dalam menciptakan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kesehatan masyarakat, dan penguatan karakter bangsa melalui pendekatan seni-budaya. (*/ubb.ac.id)













