PANGKALPINANG, DAN – Patung Ketam Remangok di kawasan Selindung kini menjadi ikon baru Kota Pangkalpinang sekaligus penggerak ekonomi warga sekitar. Berdiri tegak di jalur utama dari arah Sungailiat, patung ini dibangun pada masa Wali Kota Maulan Aklil (Bang Molen) periode 2018–2023 sebagai simbol kekayaan hayati sekaligus identitas lokal.
Ketam Remangok adalah sejenis kepiting khas yang banyak hidup di perairan Pulau Bangka. Selain terkenal akan kelezatan dagingnya, hewan ini kini juga menginspirasi visual kota melalui patung besar yang mencolok di tepi jalan.
Sejak patung itu berdiri, suasana di sekitarnya menjadi lebih ramai. Warga dan pengunjung sering berhenti untuk berswafoto, beristirahat, hingga membeli ketam segar yang dijual oleh para pedagang lokal.
Harga kepiting hidup yang dijajakan di sekitar patung berkisar antara Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kondisi. Banyak pengunjung, baik dari dalam maupun luar kota, membeli ketam ini sebagai oleh-oleh khas Pangkalpinang.
Salah satu pedagang, Syamsul, warga asli Pangkalpinang, mengaku kehadiran patung tersebut membawa dampak positif bagi penghasilannya.
“Kadang laku, kadang tidak, tapi setiap hari tetap ada saja yang beli. Lumayan buat tambahan penghasilan,” ujarnya sambil merapikan ikatan ketam dagangannya.
Syamsul menyebutkan, patung itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang melintas di jalan Pangkalpinang–Sungailiat. Bahkan, banyak pula warga kota yang sengaja datang berkunjung bersama keluarga.
“Kalau dulu orang cuma lewat, sekarang banyak yang berhenti. Ada yang foto-foto, ada yang beli ketam. Ini bisa jadi ajang wisata juga, untuk warga Pangkalpinang dan dari luar kota,” tambahnya sembari tersenyum.
Kini, Patung Ketam Remangok tidak hanya berfungsi sebagai penanda masuk wilayah Pangkalpinang. Patung itu juga menjadi simbol semangat pembangunan yang berpihak pada pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Dari sebuah patung sederhana, lahir ruang publik yang hidup, interaksi sosial, dan peluang usaha kecil yang terus tumbuh. Pangkalpinang pun menunjukkan komitmennya untuk maju tanpa meninggalkan akar identitas dan kebanggaan daerah. (*/red)













