BangkaDaerah

Mahasiswa Sosiologi UBB Dampingi Komunitas Mapur dalam Transformasi Identitas Penghayat Kepercayaan

×

Mahasiswa Sosiologi UBB Dampingi Komunitas Mapur dalam Transformasi Identitas Penghayat Kepercayaan

Sebarkan artikel ini

BANGKA, DAN – Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB) menggelar kuliah lapangan Sosiologi Agama di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Belinyu, pada 1–2 November 2025. Kegiatan yang mengangkat tema “Identitas Penghayat Kepercayaan: Transformasi Agama Adat Orang Mapur di Era Society 5.0” ini berfokus pada pendampingan warga Mapur dalam proses perubahan kolom identitas agama menjadi penghayat kepercayaan, pasca keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016.

Kuliah lapangan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan masyarakat penghayat kepercayaan sebagai mitra utama. Mahasiswa tidak hanya melakukan pengamatan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan warga Mapur dari Dusun Air Abik dan Dusun Pejem untuk memahami praktik keagamaan yang hidup di tengah komunitas adat.

Sebagai salah satu dosen pengampu, Dr. Iskandar Zulkarnain menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar mahasiswa dapat melihat keberagaman praktik keagamaan secara nyata di tingkat komunitas.

“Mahasiswa perlu melihat bagaimana agama hidup dalam praktik harian masyarakat. Dalam masyarakat adat ini memiliki berbagai macam kondisi yang menarik dan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa,” ujarnya.

Iskandar menambahkan bahwa pengalaman langsung di lapangan membantu mahasiswa mengasah kepekaan sosial mereka.

“Mahasiswa dapat belajar melihat masyarakat sebagai sumber pengetahuan, khususnya pada masyarakat adat ini,” katanya.

Dosen lainnya, Irwan, M.Sos., menilai bahwa komunitas Mapur tengah menghadapi perubahan sosial yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut modernisasi dan teknologi telah mengubah pola hidup masyarakat, meski nilai spiritual dan tradisi leluhur tetap dipertahankan.

“Modernisasi dan teknologi mulai memengaruhi pola hidup mereka. Namun masyarakat Mapur tetap mempertahankan nilai spiritual dan tradisi leluhur,” ucap Irwan.

Menurut Irwan, pemahaman terhadap komunitas adat sangat penting dalam kajian Sosiologi Agama karena menjadi pintu untuk melihat kearifan lokal yang masih bertahan di masyarakat. Ia menegaskan bahwa kuliah lapangan semacam ini harus terus diperkuat sebagai bentuk pembelajaran nyata, terutama bagi mahasiswa sosiologi yang menjadikan masyarakat sebagai laboratoriumnya.

Kegiatan juga diisi dengan dialog bersama tokoh adat setempat, Asih Harmoko, selaku Ketua Lembaga Adat Mapor. Ia menyambut baik keterlibatan mahasiswa dan menilai hal tersebut penting bagi pelestarian identitas Mapur.

“Kami terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar dan mengetahui kearifan. Penting bagi kami bahwa identitas Mapor dipahami secara benar,” ujarnya.

Asih berharap kuliah lapangan seperti ini dapat memperluas pemahaman publik mengenai keberadaan masyarakat penghayat kepercayaan. Ia menegaskan bahwa komunitas Mapor terus berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman agar nilai adat tetap relevan.

Salah seorang mahasiswa peserta kegiatan menyampaikan bahwa pengalaman lapangan memberikan perspektif baru yang tidak diperoleh dalam perkuliahan di kelas.

“Kami melihat langsung bagaimana nilai adat dan keyakinan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain melakukan observasi, mahasiswa juga mendampingi warga yang ingin mengubah identitas agama pada dokumen kependudukan menjadi penghayat kepercayaan. Pendampingan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam memahami dinamika identitas keagamaan di masyarakat adat Mapur. (*/ubb.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *