FeatureHeadlineOpiniPolitik, Hukum & Kriminal

Pangkalpinang Sedang Menulis Ulang Sejarah, Ketika ‘Petarung’ Pilkada Ulang 2025 Mulai Bermunculan

×

Pangkalpinang Sedang Menulis Ulang Sejarah, Ketika ‘Petarung’ Pilkada Ulang 2025 Mulai Bermunculan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Awan Sasmika (CEO danmedia.co)

Awan Sasmika (Jurnalis Pangkalpinang / CEO danmedia.co)

Belum benar-benar musim kampanye, tapi wajah-wajah kandidat sudah lebih sering muncul di beranda media sosial ketimbang iklan produk kecantikan. Di jalan-jalan protokol, baliho berjejer, sebagian tanpa logo partai, sebagian lagi masih malu-malu menampilkan pasangan. Kota Pangkalpinang seolah masuk ke babak baru kontestasi politik yang lebih liar, tak terduga, dan penuh kejutan.

Inilah Pilwako ulang Pangkalpinang 2025. Momentum di mana semua pihak, baik yang pernah kalah, belum sempat bertanding, hingga yang sebelumnya diam, mulai bermunculan dengan gagasan, narasi, dan tentu saja, ambisi. Masing-masing datang dari arah berbeda, namun dengan satu tujuan: kursi orang nomor satu di kota timah ini.

Paling awal muncul dan terverifikasi resmi adalah Eka Mulya Putra – Radmida Dawam, yang mencatatkan sejarah sebagai pasangan independen pertama yang lolos syarat dukungan untuk Pilwako Pangkalpinang. Deklarasi mereka dilakukan terbuka di Tugu Kerito Surong. Dengan jargon “Merdeka”, keduanya menyampaikan pesan politik yang tajam: bahwa kekuatan warga bisa menandingi kekuatan partai.

Mereka tampil percaya diri. Eka, bukanlah wajah baru di perpolitikan Pangkalpinang, mantan anggota DPRD Babel dan aktif sebagai pengusaha. Radmida, mantan Sekda Kota Pangkalpinang, adalah nama yang tak asing di kalangan ASN dan ibu-ibu pengajian. Duet ini menyiratkan kontras: muda dan matang, energi dan pengalaman.

Kemudian datang keputusan mengejutkan dari DPP PDIP, Saparudin – Dessy Ayutrisna resmi diusung sebagai pasangan calon. Penetapan ini menandai pergeseran arah setelah petahana Maulan Aklil alias Molen tidak lagi direkomendasikan partai berlambang banteng itu.

Namun, Molen, tokoh sentral dalam Pilwako sebelumnya, disinyalir tetap akan maju dengan kendaraan lain, meski langkah itu bisa membentur disiplin partai yang ketat. Kita tunggu saja kejutannya.

Saparudin, sosok dengan akar politik di akar rumput PDIP, dipasangkan dengan Dessy, yang dikenal aktif di pemerintahan dan forum perempuan muda, tentunya istri mantan Wali Kota Pangkalpinang, Irwansyah. Mereka tampil sebagai wajah ‘penebusan’ PDIP setelah trauma kekalahan kotak kosong yang membekas. Jalan mereka tak mudah.

Sebagian loyalis Molen mungkin tak serta-merta mengalihkan dukungan. Inilah tantangan utama PDIP hari ini, menyatukan kembali kekuatan di dalam rumah sendiri.

Sementara publik masih menebak arah partai-partai lain, muncul satu nama yang selama ini tampil cukup aktif, Basit. Ia kerap hadir di berbagai forum masyarakat, seperti unggahan konten di media sosialnya.

Selama ini publik mengira ia akan diusung Gerindra, mengingat afiliasinya yang dekat dan komunikasi intens dengan sejumlah tokoh partai itu. Namun, kejutan datang, Basit resmi diusung oleh koalisi Golkar–NasDem, berpasangan dengan Ustaz Dede, tokoh religius yang aktif di jaringan dakwah. Dan, salah satu tokoh Koalisi Kotak Kosong. Apakah pendukung Kotak Kosong juga akan terpecah, mengingat Pasangan Eka-Radmida mengklaim diri meneruskan perjuangan kotak kosong, menarik untuk dinanti.

Langkah ini membuat peta bisa berubah. Gerindra, yang selama ini dijadikan panggung oleh Basit, kini justru belum menyatakan arah secara terbuka. Koalisi Golkar–NasDem terlihat cermat dalam membaca peluang. PKS pun ikut berpartisipasi. Basit–Dede menjadi simbol pertemuan dua basis kuat: pengusaha muda dan jaringan keumatan.

Di tengah dinamika itu, nama-nama lain terus bergerak. Isu pasangan Sopian – Bong Ming Ming masih menjadi bahan perbincangan hangat. Walau belum ada deklarasi resmi, kombinasi birokrat senior dan representasi Tionghoa ini dianggap sebagai pasangan yang bisa menjangkau lumbung pemilih yang belum tersentuh pasangan lain.

Namun, hingga kini belum jelas ke mana arah partai-partai besar lainnya. Sebut saja di antaranya Gerindra dan Demokrat. Gerindra  tampaknya belum menentukan sikap. Demokrat yang selama ini cukup aktif di parlemen kota juga belum memastikan akan ikut atau mendukung siapa.

Partai-partai klasik ini berada di persimpangan. Apakah akan membentuk poros baru, bergabung ke salah satu pasangan yang sudah muncul, atau justru menyiapkan kejutan di menit akhir?

Pilkada ulang ini jelas tidak sesederhana pertarungan dua atau tiga nama. Ini adalah babak baru dari kemelut politik lokal yang belum selesai. Wajah lama dan baru bertemu di tengah medan politik yang makin cair. Publik Pangkalpinang harus jeli membaca siapa yang benar-benar hadir untuk perubahan, bukan sekadar mendompleng momentum.

Dalam politik kota yang semakin dinamis ini, hanya mereka yang bisa menyentuh langsung denyut warga, bukan hanya di baliho, bukan hanya di media sosial, yang akan memenangkan simpati.

Dan satu hal pasti: kontestasi ini belum selesai. Ia baru saja dimulai. Pangkalpinang sedang menulis ulang sejarahnya. (*) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *