PANGKALPINANG, DAN – Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin menekankan pentingnya etika moral, empati, kepedulian sosial, dan inovasi bagi lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat.
Pesan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-15 Institut Citra Internasional Tahun Akademik 2025/2026, yang digelar di Novotel, Kamis (29/10/2026). Sebanyak 444 wisudawan mengikuti prosesi wisuda tersebut.
Dalam orasinya, Saparudin mengapresiasi perkembangan Institut Citra Internasional yang dinilainya telah berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan visi menjadi universitas berkelas global dengan mutu dan daya saing internasional. Menurutnya, langkah menuju perguruan tinggi berstandar internasional mulai terlihat melalui peningkatan kualitas dosen dalam menghasilkan publikasi di jurnal internasional, prestasi mahasiswa di tingkat internasional, serta lulusan yang telah bekerja di berbagai institusi internasional.
“Saya kira Institut Citra Internasional sudah menapaki jalan yang benar untuk mencapai misi perguruan tinggi internasional,” ujarnya.

Saparudin juga menilai bertambahnya jumlah mahasiswa setiap tahun menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tersebut. Ke depan, ia berharap kepercayaan itu terus tumbuh sehingga semakin banyak calon mahasiswa yang memilih Institut Citra Internasional sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi.
Di hadapan para wisudawan, Saparudin mengingatkan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal memasuki kehidupan profesional dan menghadapi tantangan dunia kerja yang sesungguhnya. Ia meyakini Institut Citra Internasional telah memiliki perencanaan untuk mempersiapkan lulusannya agar mampu memasuki dunia kerja. Terlebih, lulusan bidang kesehatan memiliki peluang untuk berkarier di rumah sakit, membuka klinik, maupun menjalankan praktik sesuai profesi dan ketentuan yang berlaku.
Saparudin juga mengingatkan, dunia kerja akan terus mengalami perubahan seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk di bidang kesehatan, keperawatan, dan kebidanan. Menurutnya, teknologi kesehatan dapat mengalami pembaruan dalam waktu singkat. Karena itu, para lulusan harus memiliki kemauan untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam orasi ilmiahnya. Saparudin menyinggung bagaimana perkembangan AI didukung oleh kemajuan teknologi pengolahan data dan big data, yang memungkinkan sistem mengolah informasi dalam jumlah besar.
Meski demikian, Saparudin menilai kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Ia mengingatkan para lulusan bahwa terdapat aspek-aspek mendasar dalam diri manusia yang harus tetap menjadi pegangan, terutama dalam menjalankan profesi yang berhubungan langsung dengan pelayanan dan kehidupan orang lain.
Saparudin menegaskan setidaknya ada tiga hal penting yang harus dimiliki para lulusan ketika memasuki dunia profesional, yakni etika moral, empati, dan kepedulian sosial.
Pertama, etika moral harus menjadi landasan utama dalam menjalankan profesi. Menurutnya, kemampuan akademik dan penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan integritas serta tanggung jawab.
Kedua, empati menjadi bekal penting, terutama bagi lulusan bidang kesehatan. Ia mengingatkan bahwa tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan memahami perasaan dan kondisi pasien.
Saparudin mencontohkan, seorang perawat harus mampu memberikan pelayanan dengan sikap yang ramah dan penuh perhatian ketika menghadapi pasien. Sikap tidak peduli terhadap kondisi emosional pasien dapat mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan.
“Empati merupakan nilai kemanusiaan yang harus terus dipelihara di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih,” tegasnya.
Ketiga, kepedulian sosial harus tumbuh dalam diri setiap lulusan. Wali Kota berharap para sarjana tidak hanya berorientasi pada keberhasilan pribadi dan karier, tetapi juga memiliki perhatian terhadap persoalan masyarakat.
“Para lulusan diharapkan mampu menjadi pelopor perubahan di lingkungan masing-masing, memberikan kontribusi nyata, serta mengambil peran dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” pintanya.

Selain etika, empati, dan kepedulian sosial, Saparudin menempatkan inovasi sebagai salah satu kunci penting bagi para lulusan untuk menghadapi tantangan masa depan. Ia mendorong para wisudawan agar tidak berhenti pada gagasan atau pemikiran semata, tetapi berani mewujudkan ide menjadi tindakan dan hasil nyata.
“Banyak orang memiliki gagasan kreatif, tetapi tidak semuanya mampu menerjemahkan gagasan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat,” imbuhnya.
Karena itu, Saparudin meminta para lulusan harus membangun kebiasaan untuk terus mencari cara baru dalam menyelesaikan persoalan, meningkatkan kualitas pekerjaan, dan menciptakan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Kreativitas perlu disertai keberanian untuk bertindak agar gagasan tidak berhenti sebagai wacana.
“Wujudkan apa yang kalian pikirkan dan pikirkan apa yang ingin diwujudkan,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para wisudawan bahwa keberhasilan setelah lulus tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi, integritas, kepedulian terhadap sesama, dan keberanian menghadirkan perubahan. Melalui orasi ilmiah tersebut, Saparudin berharap 444 lulusan Institut Citra Internasional mampu menjadi sumber daya manusia yang kompeten, berkarakter, dan berdaya saing, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan dunia kerja. (tim)















