BANGKA, DAN – Program Studi Perikanan Tangkap, Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (FPPK), Universitas Bangka Belitung (UBB), merekonstruksi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) untuk memperkuat kompetensi lulusan agar sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor kelautan dan perikanan. Upaya tersebut dibahas dalam Workshop Rekonstruksi Kurikulum Berbasis OBE Tahun 2026 di Ruang Akustik, Gedung Teladan FPPK UBB, Kamis (15/10/2026), dengan melibatkan akademisi, pemerintah, asosiasi profesi, pelaku usaha, pengguna lulusan, alumni, satuan pendidikan, dan mahasiswa.
Workshop menghadirkan Prof. Dr. Ir. Mohammad Imron, M.Si., dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai narasumber. Forum ini menjadi ruang evaluasi terhadap kurikulum yang berlaku sekaligus menghimpun masukan pemangku kepentingan untuk menyelaraskan profil lulusan, capaian pembelajaran, bahan kajian, dan struktur mata kuliah dengan kebutuhan dunia kerja.
Dekan FPPK UBB, Riwan Kusmiadi, S.TP., M.Si., saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya rekonstruksi kurikulum untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan mempersiapkan lulusan menghadapi dinamika dunia kerja. Menurutnya, pengembangan kompetensi mahasiswa perlu memperhatikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan sektor perikanan, baik di tingkat nasional maupun internasional, termasuk peluang mengikuti program magang di Jepang.
Koordinator Program Studi Perikanan Tangkap UBB, Agung Priyambada, S.Pi., M.Pi., kemudian memaparkan kurikulum yang berlaku sebagai dasar pembahasan dan evaluasi. Melalui pendekatan OBE, program studi diarahkan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berorientasi pada capaian kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan, baik dalam aspek pengetahuan maupun keterampilan praktis.
Perkuat Kompetensi Teknis dan Penguasaan Teknologi
Dalam pembahasan substansi keilmuan, Prof. Mohammad Imron menekankan pentingnya penguatan kompetensi inti perikanan tangkap, meliputi teknologi penangkapan ikan, kapal perikanan, navigasi, keselamatan pelayaran, serta penanganan hasil tangkapan sejak di atas kapal hingga tahap pascapenangkapan. Kurikulum juga perlu mengakomodasi perkembangan teknologi digital dan instrumentasi, pemahaman daerah penangkapan ikan (fishing ground), konservasi sumber daya ikan, serta pemanfaatan ruang laut.
Mahasiswa juga perlu memahami dinamika pemanfaatan wilayah pesisir dan laut, termasuk potensi konflik antara aktivitas perikanan tangkap, pertambangan, dan kegiatan ekonomi lainnya. Pemahaman tersebut diperlukan agar lulusan mampu melihat persoalan perikanan secara komprehensif, dengan mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan sumber daya.
Selain teknologi penangkapan, aspek keamanan, kebersihan, mutu, penanganan, dan pengolahan hasil perikanan turut menjadi perhatian. Penguatan kompetensi ini diharapkan dapat membantu menjaga kualitas hasil tangkapan, meningkatkan nilai tambah produk, dan mendukung daya saing sektor perikanan, termasuk melalui peluang diversifikasi pemanfaatan potensi perikanan untuk wisata dan rekreasi yang tetap memperhatikan prinsip konservasi.
Kebijakan Perikanan dan Keselamatan Pelayaran Jadi Perhatian
Dari perspektif pemerintah daerah, Ichsan Afrizal dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyoroti pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT), pengelolaan sumber daya ikan berbasis data, dan tata kelola pemanfaatan ruang laut. Kompetensi yang perlu diperkuat mencakup pemahaman stok ikan, jumlah tangkapan yang diperbolehkan, pendataan produksi, perizinan kapal, serta pengendalian aktivitas penangkapan.
Pengetahuan mengenai ekologi, oseanografi, bioekonomi, dan ekonomi biru juga dinilai penting untuk mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya menguasai aspek operasional penangkapan ikan, tetapi juga memahami kebijakan dan dinamika pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.
Sementara itu, Kori Apriyanto, S.P., dari unsur Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Bangka menekankan pentingnya pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. Materi yang perlu mendapat perhatian meliputi perizinan kapal, ketentuan alat penangkapan ikan yang diperbolehkan maupun dilarang, serta konsekuensi hukum atas pelanggaran.
Perwakilan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Pangkal Balam, Dr. Capt. Efran Dinata, S.H., M.H., M.M., M.Mar., turut memberikan masukan mengenai penguatan kompetensi keselamatan pelayaran, stabilitas kapal, dan sertifikasi keahlian yang relevan dengan kebutuhan profesi. Masukan dari unsur pemerintah tersebut menegaskan perlunya keterpaduan antara kompetensi teknis penangkapan ikan, keselamatan operasional kapal, kepatuhan terhadap regulasi, dan pengelolaan sumber daya perikanan.
Mutu Hasil Perikanan dan Kesiapan Kerja Lulusan
Kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang memahami standar mutu hasil perikanan juga menjadi bagian penting dalam evaluasi kurikulum. Perwakilan Stasiun Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP), Rahmat Natawijaya, S.Pi., M.I.L., M.Sc., menyampaikan masukan mengenai penanganan dan pengolahan hasil perikanan, teknologi pengemasan, pengendalian mutu, serta administrasi produk untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pasar nasional dan internasional.
Pengembangan materi tersebut perlu disusun secara sistematis, mulai dari penanganan hasil tangkapan, proses pengolahan, pengemasan, hingga pengendalian mutu produk. Distribusi mata kuliah juga perlu dievaluasi agar setiap tahapan pembelajaran saling mendukung dan berkontribusi terhadap pencapaian kompetensi lulusan.
Dari sisi pendidikan vokasi, Helmi Ibrahim, S.Pd., dari SMK Negeri 4 Pangkalpinang dan Luchy Sandra, S.Tr.Pi., dari SMK Negeri 2 Sungai Liat menyoroti pentingnya kesinambungan kompetensi antara pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Pembelajaran berbasis praktik, dukungan fasilitas praktikum, dan pengalaman lapangan dinilai perlu diperkuat agar mahasiswa lebih siap menerapkan pengetahuan dalam lingkungan kerja profesional.
Ketua Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Arief Febrianto, S.Pi., M.Si., turut menyoroti pentingnya pengembangan profesional lulusan. Penguasaan teknologi perikanan, termasuk instrumen digital, perlu diimbangi dengan persiapan karier sejak mahasiswa masih menempuh pendidikan.
Sementara itu, perwakilan mahasiswa, Dwi Sara, mengusulkan agar program studi memperhatikan fasilitasi sertifikasi profesi sebagai nilai tambah bagi lulusan. Keterampilan digital dan kemampuan berbahasa Inggris juga dinilai penting untuk memperluas peluang kerja serta membantu mahasiswa memenuhi persyaratan profesi di tingkat nasional maupun internasional.
Berbagai masukan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan lulusan tidak cukup hanya ditentukan oleh penguasaan materi akademik. Pengalaman praktik, pemahaman regulasi, sertifikasi profesi, keterampilan komunikasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten.
Masukan Pemangku Kepentingan Jadi Dasar Penyempurnaan
Melalui workshop ini, Program Studi Perikanan Tangkap UBB menghimpun perspektif berbagai pemangku kepentingan untuk mengevaluasi relevansi kurikulum terhadap kebutuhan sektor perikanan tangkap. Sejumlah aspek yang menjadi perhatian meliputi penguatan kompetensi teknis, teknologi digital, keselamatan pelayaran, pengelolaan sumber daya ikan, kepatuhan terhadap regulasi, mutu hasil perikanan, dan pengembangan keterampilan profesional.
Masukan dari akademisi, pemerintah, asosiasi profesi, satuan pendidikan, pengguna lulusan, alumni, dan mahasiswa menjadi bahan pertimbangan dalam meninjau profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), bahan kajian atau Body of Knowledge, struktur kurikulum, serta distribusi mata kuliah. Evaluasi ini diharapkan dapat memperkuat keterkaitan antara materi pembelajaran, pengalaman praktik, dan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Hasil pembahasan selanjutnya menjadi bahan bagi program studi dan tim penyusun kurikulum untuk merumuskan rekomendasi penyempurnaan dengan mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan pemangku kepentingan, serta ketentuan pendidikan tinggi yang berlaku. Melalui rekonstruksi kurikulum berbasis OBE, Program Studi Perikanan Tangkap UBB diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, adaptif, serta berkontribusi terhadap pengembangan sektor perikanan tangkap yang berkelanjutan dan berdaya saing. (*/ubb.ac.id)















