BANGKA SELATAN, DAN – Universitas Bangka Belitung (UBB) mendorong peningkatan kualitas hasil hortikultura petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, melalui pelatihan penanganan panen dan pascapanen. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi kehilangan hasil, meningkatkan nilai jual produk, serta membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi petani, terutama saat produksi melimpah.
Pendampingan tersebut dilaksanakan melalui Farmer Field and Business School (FFBS) pada pertemuan keenam Program Ekspedisi Patriot, Sabtu (10/10/2026). Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 20 petani hortikultura itu, dosen UBB sekaligus Koordinator Program Studi S2 Ilmu Pertanian, Dr. Evahelda, S.TP., M.Si., bertindak sebagai narasumber dengan materi “Peningkatan Kualitas Hasil Hortikultura melalui Pra-Panen, Pemanenan, Sortasi, dan Grading”.
Materi pelatihan mencakup sejumlah komoditas hortikultura, antara lain bayam, kangkung, pakcoy, selada, cabai, dan melon. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan teoretis, tetapi juga mengikuti praktik langsung untuk menentukan waktu panen berdasarkan karakteristik tanaman serta menerapkan teknik sortasi dan grading pada hasil pertanian.
Dr. Evahelda menjelaskan, sortasi merupakan proses memisahkan produk berdasarkan kondisi fisiknya, termasuk memisahkan hasil panen yang busuk, memar, lecet, atau tidak layak konsumsi. Sementara itu, grading adalah pengelompokan produk berdasarkan kelas mutu dengan mempertimbangkan keseragaman ukuran, warna, bentuk, dan tingkat kematangan.
“Penanganan pascapanen, termasuk sortasi dan grading, harus dilakukan dengan tepat. Kegiatan ini merupakan langkah sederhana tetapi penting untuk menjaga kualitas produk hortikultura sekaligus meningkatkan nilai ekonominya,” jelasnya.
Menurut Dr. Evahelda, pemisahan produk berdasarkan kondisi fisik dan pengelompokan sesuai kelas mutu dapat menghasilkan komoditas yang lebih seragam serta memiliki daya tarik lebih baik di pasar. Dengan kualitas yang terjaga, petani berpeluang memperoleh harga jual yang lebih baik sekaligus meningkatkan daya saing produknya.
Dr. Evahelda berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan langsung oleh petani, terutama dalam menentukan waktu panen yang tepat dan menyesuaikan mutu produk dengan kebutuhan konsumen. Penerapan penanganan pascapanen yang baik juga diharapkan mampu menekan kehilangan hasil dan meningkatkan pendapatan petani.
Salah satu tantangan yang dihadapi petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang adalah pemasaran hasil panen, khususnya ketika produksi meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan usaha hortikultura tidak cukup hanya mengandalkan keberhasilan budidaya, tetapi juga membutuhkan pengelolaan pascapanen yang baik dan akses pasar yang berkelanjutan.
Program Ekspedisi Patriot di kawasan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat transmigrasi dalam mengembangkan usaha budidaya sayuran sebagai sumber penghasilan tambahan. Pendampingan dilakukan secara bertahap melalui praktik langsung, mulai dari budidaya tanaman hingga pemasaran hasil panen, agar petani memahami pengelolaan usaha pertanian secara lebih menyeluruh.
Sebagai bagian dari upaya memperluas akses pemasaran, petani binaan juga telah menandatangani kontrak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bangka Selatan. Kerja sama ini diharapkan membuka peluang pasar bagi produk hortikultura petani sekaligus membantu mengatasi kendala pemasaran ketika hasil panen melimpah.
Keterlibatan Dr. Evahelda sebagai narasumber dalam pertemuan keenam FFBS menjadi salah satu bentuk kontribusi UBB dalam menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung kepada masyarakat. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, praktik lapangan, dan pengembangan jejaring pemasaran, program ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha hortikultura serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang. (*/ubb.ac.id)















