Pangkalpinang

Interkoneksi Sumatera-Bangka Tahap II Dikebut, Siapkan Tambahan Daya 150 kV

×

Interkoneksi Sumatera-Bangka Tahap II Dikebut, Siapkan Tambahan Daya 150 kV

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, DAN – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) bersama PT PLN (Persero) mematangkan realisasi proyek Interkoneksi Kelistrikan Sumatera-Bangka Tahap II yang ditargetkan mulai dibangun pada 2027 dan beroperasi penuh pada 2028. Proyek strategis yang masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 ini diproyeksikan memperkuat ketahanan energi sekaligus menjadi katalisator masuknya investasi berskala besar ke Babel.

Pematangan proyek tersebut dibahas dalam rapat di Ruang Tanjung Pesona, Kantor Gubernur Babel, Senin (1/9/2026). Interkoneksi tahap kedua ini dirancang melalui pembangunan infrastruktur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi (SKLT) 150 kV untuk menambah keandalan pasokan listrik di wilayah kepulauan tersebut.

Plt. Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Babel, M. Yunus, yang hadir mewakili Gubernur Babel mengatakan, proyek tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan energi yang andal bagi masyarakat maupun dunia usaha. Menurutnya, tambahan pasokan dari sistem interkoneksi akan memperkuat posisi Babel sebagai daerah yang siap menerima investasi dengan kebutuhan energi besar.

“Saat ini kita sebetulnya sudah surplus. Dari beban puncak 190 kV, kita masih ada sisa. Dengan tambahan 150 kV nanti, total kapasitas kelistrikan Bangka Belitung akan semakin luar biasa menembus 300 kV. Ini akan memastikan daerah kita tidak akan kesulitan listrik lagi,” katanya.

Yunus menilai salah satu keunggulan Interkoneksi Sumatera-Bangka Tahap II berada pada efisiensi bentang kabel bawah laut yang akan dibangun. Jalur Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi (SKLT) tersebut direncanakan menghubungkan wilayah Sumatera dengan Bangka melalui lintasan laut yang relatif pendek.

Yunus menjelaskan, jaringan SKLT akan melintasi wilayah Tulung Selapan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menuju Desa Marina sebelum mendarat di Desa Permis, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. Panjang bentang kabel laut pada tahap kedua ini disebut hanya sekitar 14 kilometer, jauh lebih pendek dibandingkan proyek interkoneksi tahap pertama dari Tanjung Api-api menuju Mentok yang mencapai sekitar 63 kilometer.

“Jarak tempuh kabel lautnya sangat efisien, hanya 14 kilometer. Ini sebuah pencapaian dan lompatan besar jika dibandingkan dengan pembangunan Tahap I dari Tanjung Api-api ke Mentok yang bentangannya mencapai 63 kilometer,” ujarnya.

Menurut Yunus, penguatan sistem kelistrikan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif. Dengan pasokan energi yang lebih melimpah dan andal, Babel dinilai akan memiliki modal yang lebih kuat untuk menarik investasi berskala besar.

“Melalui ketersediaan energi yang melimpah dan andal ini, Bangka Belitung akan semakin memikat dan siap menyambut masuknya para investor berskala besar,” sambungnya.

Sementara itu, Assistant Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Selatan, Dimas Kriesta Wijaya menjelaskan proyek tersebut akan memiliki titik pendaratan utama yang menghubungkan Sumatera Landing Point di Tanjung Tapah, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dengan Bangka Landing Point di Tanjung Berani, Kabupaten Bangka Selatan. Infrastruktur kabel laut sepanjang 14 kilometer menjadi salah satu bagian utama dari sistem interkoneksi tersebut.

Selain pembangunan SKLT, PLN juga akan membangun jaringan SUTT 150 kV Koba–Bangka Landing Point Tahap II sepanjang 132 kilometer. Di sisi Sumatera, jaringan SUTT 150 kV Mariana–Sumatera Landing Point Tahap II direncanakan memiliki panjang sekitar 220 kilometer.

Untuk mendukung sistem transmisi tersebut, PLN juga merencanakan pembangunan Gardu Induk (GI) baru di Koba, Kabupaten Bangka Tengah. GI tersebut akan melengkapi infrastruktur kelistrikan yang telah dibangun pada tahap pertama dan saat ini telah beroperasi di Mentok.

Dimas mengatakan, keseluruhan proyek saat ini telah menyelesaikan tahapan studi kelayakan dan memasuki proses perizinan. Sejumlah persyaratan yang tengah diproses antara lain Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL), serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Targetnya, konstruksi fisik dapat mulai pada 2027 dan kemudian beroperasi penuh atau Commercial Operation Date (CoD) pada 2028,” kata Dimas.

Penguatan sistem kelistrikan Babel juga diproyeksikan terus berlanjut setelah Interkoneksi Sumatera-Bangka Tahap II rampung. Pemprov Babel bersama PLN telah memetakan sejumlah rencana ekspansi jaringan untuk memperluas jangkauan pasokan listrik ke wilayah kepulauan lainnya.

Rencana tersebut antara lain mencakup pengembangan interkoneksi dari Tanjung Berikat menuju Selat Nasik serta perluasan jaringan dari Sadai menuju sejumlah gugusan kepulauan, termasuk Pulau Lepar, Pongok, Selat Nasik, hingga Tanjung Ru di Belitung. Langkah tersebut menjadi bagian dari cetak biru penguatan sistem kelistrikan Babel untuk menjamin ketersediaan energi yang lebih merata, andal, dan berkelanjutan. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *