PANGKALPINANG, DAN – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mendorong batik dan cual lokal tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari gaya fesyen generasi muda. Upaya tersebut dinilai penting agar keberadaan batik dan cual tetap relevan sekaligus mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi perajin dan desainer lokal.
Ketua Dekranasda Babel, Noni Hidayat Arsani mengajak para remaja untuk lebih percaya diri mengenakan batik dan cual lokal dalam berbagai kesempatan, termasuk sebagai busana sehari-hari. Menurutnya, saat ini tersedia beragam pilihan motif dan desain yang dapat disesuaikan dengan karakter serta gaya berpakaian anak muda.
“Melalui acara ini, kita juga ingin memperkenalkan kepada remaja-remaja kita bahwa ada banyak pilihan batik dan cual lokal dengan beragam motif. Banyak yang bagus-bagus, ada yang casual juga, yang bisa dipakai oleh remaja kita,” ujarnya saat menghadiri ERPEKA Festival 2026 di Wilhelmina Park, Alun-Alun Taman Merdeka, Pangkalpinang, Sabtu (8/8/2026) petang.
Noni mengatakan, perkembangan desain batik dan cual lokal saat ini menunjukkan bahwa kain tradisional Babel dapat dikemas menjadi busana yang lebih modern tanpa kehilangan karakter budaya. Ia pun mengapresiasi kreativitas para desainer lokal yang mampu mengolah berbagai motif khas daerah menjadi karya fesyen yang memiliki daya tarik bagi masyarakat, termasuk generasi muda.
Noni menilai dukungan masyarakat menjadi salah satu kunci agar industri fesyen berbasis wastra lokal dapat terus berkembang. Karena itu, masyarakat diajak tidak hanya mengenal batik dan cual sebagai identitas budaya, tetapi juga memilih dan menggunakan produk karya perajin serta desainer lokal.
“Masyarakat harus mendukung produk hasil karya desainer lokal kita yang tidak kalah bagus dengan daerah lain. Ada banyak pilihan model, warna dan motif yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua,” katanya.
Dorongan tersebut disampaikan dalam parade fashion show yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), sekaligus memeriahkan Food and Fun Erpeka Festival 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Tradisi, Menginspirasi Negeri Melalui Karya dan Kreasi” itu menampilkan puluhan model dengan beragam kreasi batik dan cual karya delapan perajin dan desainer lokal Bangka Belitung.
Delapan peserta yang menampilkan karyanya yakni Batik Melayu Pinang Sirih dengan desainer Yundarti, Batik Kampung Katak oleh Endang Titie, Batik Kemuning oleh Darmawati dan Widya Utami Budiarti, serta Batik Asdarya oleh Sri Budi Astuti. Selain itu, turut tampil Sendi Cual, Galeri Destiani, Ishadi Cual, dan Tanahwari dengan koleksi yang mengangkat karakter serta kekayaan budaya Bangka Belitung.
Beragam motif khas daerah ditampilkan dalam koleksi tersebut, di antaranya Nganggung Tudung Saji, Ketuyut Begantung, Sahang Bemirah, Anggrek Pensil, Daun Simpor, Ketem Remangok, Keramunting, Akar Bakau, Daun Resam, Daun Lada, Dambus Kepala Rusa, dan Burung Hong. Sejumlah koleksi cual juga mengangkat motif Kembang Setaman, Cual Bebek, Kembang Sumping, Lebah Pelawan, Naga Bertarung, Kembang Gajah, hingga tema yang terinspirasi dari sejarah dan lanskap Bangka Belitung.
Konsep busana yang diperagakan pun beragam, mulai dari gaya retro chic, busana etnik modern, busana kerja casual hingga koleksi yang mengangkat kekayaan flora, fauna dan sejarah Bangka Belitung. Pengembangan desain tersebut memperlihatkan peluang batik dan cual untuk masuk ke berbagai segmen fesyen, termasuk pasar generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Noni Hidayat juga menyerahkan bucket bunga kepada seluruh desainer yang berpartisipasi dalam fashion show. Kegiatan ini diharapkan semakin memperluas apresiasi terhadap karya lokal sekaligus mendorong batik dan cual Bangka Belitung menjadi produk fesyen yang bernilai budaya dan ekonomi. (*/red)














