PANGKALPINANG, DAN – Kinerja perekonomian Kota Pangkalpinang pada Triwulan IV tahun 2025 mengalami kontraksi. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), ekonomi tercatat menyusut sebesar 0,81 persen (q-to-q) dibandingkan Triwulan III-2025.
Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya sektor sekunder atau industri pengolahan yang mengalami kontraksi cukup dalam, yakni sebesar 19,89 persen. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Meski demikian, dua sektor lainnya masih menunjukkan kinerja positif. Sektor primer tumbuh sebesar 4,77 persen, sementara sektor tersier atau jasa mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 12,57 persen. Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi penurunan tajam pada sektor industri.
Dari sisi struktur ekonomi, Pangkalpinang masih didominasi oleh sektor tersier dengan kontribusi mencapai 74,01 persen, diikuti sektor sekunder sebesar 20,64 persen, dan sektor primer sebesar 5,35 persen.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y), ekonomi Pangkalpinang mengalami kontraksi yang lebih dalam, yakni sebesar 2,97 persen. Sektor sekunder kembali menjadi penyumbang utama penurunan dengan kontraksi mencapai 34,28 persen. Sementara itu, sektor primer dan tersier masih mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 9,66 persen dan 7,98 persen.
Penurunan pada sektor industri ini diduga berkaitan dengan perlambatan aktivitas pengolahan, termasuk dampak dari dinamika sektor pertambangan dan industri hilir.
Meskipun mengalami tekanan di akhir tahun, secara kumulatif sepanjang tahun 2025, ekonomi Pangkalpinang masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 4,54 persen (c-to-c). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor tersier sebesar 4,69 persen, diikuti sektor sekunder sebesar 4,19 persen, dan sektor primer sebesar 4,09 persen. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi ekonomi masih relatif stabil, meskipun terdapat tekanan pada periode akhir tahun.
Dari sisi pengeluaran, kontraksi ekonomi pada Triwulan IV-2025 juga dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 0,05 persen.
Sebaliknya, konsumsi pemerintah justru mengalami lonjakan signifikan sebesar 27,18 persen, disusul peningkatan investasi (PMTB) sebesar 3,75 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah.
Namun secara tahunan, konsumsi pemerintah justru mengalami penurunan sebesar 6,21 persen, sementara investasi turun 1,06 persen. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih tumbuh sebesar 2,91 persen, meski belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Struktur PDRB menurut pengeluaran menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama ekonomi dengan kontribusi sebesar 47,94 persen, diikuti investasi sebesar 30,81 persen, dan konsumsi pemerintah sebesar 16,88 persen. Ketergantungan terhadap konsumsi masyarakat ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika daya beli mengalami perlambatan.
Melihat kondisi tersebut, penguatan sektor sekunder dinilai menjadi kunci untuk mendorong pemulihan ekonomi daerah. Selain itu, peningkatan daya beli masyarakat serta optimalisasi belanja pemerintah yang produktif juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi ke depan. (*/sumber: BPS Pangkalpinang)













