Olahraga

Mourinho Kembali ke Stamford Bridge: Dari Roma ke Benfica, Ambisi yang Tak Pernah Padam

×

Mourinho Kembali ke Stamford Bridge: Dari Roma ke Benfica, Ambisi yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini
Mourinho bersama trofi Liga Konferensi pada 2022. (Sumber Foto: uefa.com)

LONDON, DAN – José Mourinho kembali ke Stamford Bridge dengan cerita baru. Sang pelatih berusia 62 tahun kini memimpin Benfica di Liga Champions UEFA, dan akan berhadapan dengan Chelsea pada Matchday 2. Bagi Mourinho, laga ini bukan sekadar nostalgia, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa semangat dan kualitasnya sebagai pelatih papan atas Eropa tak pernah luntur.

Nama Mourinho begitu melekat dengan Chelsea, klub yang dibawanya meraih tiga gelar Liga Inggris dan mengubah wajah Premier League di awal 2000-an. Namun, dalam wawancara bersama UEFA, ia menegaskan bahwa hubungannya dengan The Blues kini hanya bagian dari sejarah.

“Chelsea bagian dari sejarah saya, dan saya bagian dari sejarah Chelsea. Tapi mereka ingin menang, saya juga ingin menang. Saat pertandingan berjalan, saya bisa melupakan itu semua dan hanya fokus bertarung,” ujarnya.

Perjalanan panjang Mourinho sejak meninggalkan London memperlihatkan bahwa dirinya bukan sekadar pelatih penuh ambisi, tetapi juga sosok yang tahu bagaimana meninggalkan warisan. Salah satu momen terpenting dalam kariernya tercipta di Italia bersama AS Roma.

Mourinho menghadirkan kejayaan yang lama dinantikan klub ibu kota, menjuarai UEFA Conference League pada 2022 dan menjadikan Roma klub Italia pertama yang mengangkat trofi kompetisi tersebut. Bagi Giallorossi, itu bukan hanya sekadar piala, tetapi simbol kebangkitan dan bukti bahwa Mourinho masih mampu menciptakan keajaiban.

Pengalaman di Roma juga menjadi titik balik penting dalam dirinya sebagai pelatih. Jika di awal karier ia dikenal flamboyan, penuh kontroversi, dan kerap menjadikan dirinya pusat perhatian, kini ia merasa lebih matang. Mourinho mengaku lebih berfokus pada tim, klub, dan para suporter daripada kepentingan pribadi.

“Di awal saya lebih berpusat pada diri sendiri. Sekarang saya merasa lebih altruistis. Saya ada untuk membantu pemain, membantu klub, membantu fans merasakan kebahagiaan,” katanya.

Semangat kompetitifnya pun tak pernah padam. Mourinho mengenang sebuah momen saat masih melatih Real Madrid dan bertemu Sir Alex Ferguson sebelum laga Liga Champions melawan Manchester United pada 2013. Kala itu, Ferguson berpesan bahwa ketegangan dan adrenalin sebelum laga besar tidak akan pernah berubah sampai akhir karier. Lebih dari satu dekade berselang, Mourinho merasakan hal yang sama. Ia tetap merasakan kegembiraan setiap kali menang, dan kesedihan yang mendalam setiap kali kalah.

Kini, Benfica menjadi panggung barunya. Klub tempat ia pertama kali menjajal kursi pelatih senior pada tahun 2000 itu kembali memberinya kepercayaan, dan Mourinho melihatnya sebagai tantangan yang sejalan dengan ambisinya.

“Benfica adalah raksasa. Klub raksasa berarti tanggung jawab besar, ekspektasi besar – semuanya besar. Tapi itu tantangan yang saya butuhkan,” tegasnya.

Meski rumahnya menyimpan banyak medali, replika trofi, dan jersey ikonik dari masa lalu, Mourinho menolak hidup dari nostalgia. Baginya, masa lalu hanyalah museum pribadi, sementara yang terpenting adalah apa yang bisa ia lakukan hari ini.

“Apa yang saya jalani hari ini adalah siapa saya hari ini, bukan apa yang saya lakukan di masa lalu. Saya dinilai dari apa yang saya lakukan sekarang,” ujarnya.

Stamford Bridge mungkin akan terasa seperti rumah lama baginya, tapi Mourinho datang bukan untuk mengenang. Setelah membawa Roma menorehkan sejarah, kini ia bertekad menulis babak baru bersama Benfica. Dan seperti biasanya, Mourinho tahu cara mengubah sebuah pertandingan menjadi panggung bagi dirinya dan timnya. (*/uefa.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *