MUSIM Serie A 2025/2026 seharusnya menjadi salah satu musim paling kompetitif dalam satu dekade terakhir. Pergantian pelatih terjadi di hampir semua klub besar, menghadirkan harapan baru, pendekatan taktik yang berbeda, serta janji kebangkitan. Namun alih-alih melahirkan persaingan dramatis hingga akhir musim, liga justru bergerak menuju satu arah yang semakin jelas: dominasi senyap Inter Milan.
Di bawah pelatih baru Cristian Chivu, Inter tidak mengalami guncangan seperti yang biasa terjadi dalam masa transisi. Justru sebaliknya, mereka terlihat semakin matang. Chivu tidak merombak fondasi yang sudah ada, melainkan memperhalusnya. Hasilnya terlihat nyata dalam beberapa pertandingan terakhir, termasuk kemenangan meyakinkan atas AS Roma yang menegaskan jarak kualitas di antara kedua tim. Inter bermain dengan kontrol, efisiensi, dan ketenangan yang hanya dimiliki oleh tim yang tahu bagaimana cara menjadi juara.
Performa individu pun menyatu dalam sistem yang solid. Lautaro Martínez tampil sebagai ujung tombak yang konsisten, tidak hanya dalam mencetak gol tetapi juga memimpin tekanan dari lini depan. Di belakangnya, Nicolò Barella menjaga ritme permainan dengan energi dan visi, sementara lini pertahanan yang dikomandoi Alessandro Bastoni memberikan stabilitas yang sulit ditembus. Inter musim ini bukan sekadar tim kuat, tetapi tim yang lengkap.
Kontras terlihat jelas ketika menengok rival-rivalnya. AC Milan memulai era baru bersama Massimiliano Allegri dengan ekspektasi tinggi. Namun proses adaptasi tidak berjalan semulus yang diharapkan. Dalam beberapa laga terakhir, Milan kerap gagal mengunci kemenangan meski mampu mengontrol permainan. Rafael Leão tetap menjadi ancaman utama, didukung oleh agresivitas Christian Pulisic dan kreativitas Luca Modric, tetapi efektivitas menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Milan terlihat seperti tim yang sedang dibangun, bukan tim yang siap menutup musim di puncak.
Sementara itu, Napoli tetap mempertahankan mentalitas juara bersama Antonio Conte. Di fase akhir musim, mereka menunjukkan kebangkitan yang impresif, termasuk kemenangan penting atas Milan yang sempat menghidupkan asa. Rasmus Højlund menjadi tumpuan di lini depan, dengan dukungan kreativitas Scott McTominay. Namun dalam perlombaan panjang seperti Serie A, momentum yang datang terlambat sering kali tidak cukup. Napoli bermain baik, tetapi mereka terlalu bergantung pada kemungkinan terpelesetnya Inter—sesuatu yang hingga kini belum terjadi.
Cerita lain datang dari AS Roma yang memulai musim dengan penuh optimisme bersama Gian Piero Gasperini. Pendekatan menyerang yang ia bawa sempat membuat Roma terlihat menjanjikan. Paulo Dybala menjadi pusat kreativitas, sementara Lorenzo Pellegrini menjaga keseimbangan permainan. Namun seiring berjalannya waktu, inkonsistensi mulai terlihat. Kekalahan telak dari Inter dalam laga terakhir menjadi pengingat bahwa proyek ini masih membutuhkan waktu untuk benar-benar matang.
Jika Roma adalah proyek yang sedang tumbuh, maka Juventus adalah potret dari kegamangan. Pergantian pelatih yang terjadi sepanjang musim—dari Igor Tudor hingga perubahan arah berikutnya—membuat Juventus kehilangan identitas. Padahal mereka memiliki kualitas individu melalui Dušan Vlahović dan Kenan Yildiz. Namun tanpa arah yang jelas, kualitas tersebut tidak pernah benar-benar terkonversi menjadi konsistensi hasil.
Di tengah dominasi klub-klub besar, Como 1907 justru menjadi cerita paling menyegarkan musim ini. Bersama Cesc Fàbregas, Como tampil dengan identitas yang jelas dan berani. Mereka bukan sekadar tim kejutan, tetapi tim dengan filosofi yang terstruktur. Pemain seperti Patrick Cutrone, Nico Paz, dan Anastasios Douvikas menjadi simbol bagaimana kolektivitas mampu mengimbangi keterbatasan. Dalam beberapa pertandingan terakhir, Como menunjukkan bahwa konsistensi bukan monopoli tim besar.
Pada akhirnya, musim ini menjadi pelajaran penting tentang arti stabilitas di tengah perubahan. Banyak tim mencoba membangun ulang identitas mereka melalui pelatih baru, tetapi hanya sedikit yang mampu melakukannya tanpa kehilangan arah. Inter Milan adalah pengecualian. Mereka tidak hanya berhasil beradaptasi, tetapi juga berkembang.
Jika melihat tren hasil pertandingan hingga fase akhir musim, sulit untuk membayangkan skenario lain selain Inter mengangkat trofi. Mereka unggul bukan hanya dalam perolehan poin, tetapi juga dalam kejelasan visi, kedalaman skuad, dan kematangan permainan. Napoli mungkin akan terus menekan, Milan mencoba mengejar, dan tim lain berusaha memperbaiki diri, tetapi Inter sudah berada di garis yang berbeda.
Musim ini, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling banyak berubah, tetapi siapa yang paling siap. Dan di antara semua tim di Serie A, Inter Milan adalah yang paling siap untuk menutup musim dengan satu hal yang sejak awal mereka bangun secara perlahan: kepastian menjadi juara. (red)













