CHANGZOU, DAN – Ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi berhasil melangkah ke babak 16 besar China Open 2025. Pasangan Ana/Tiwi, unggulan ke-7 turnamen ini, membuka langkah mereka dengan kemenangan dua gim langsung atas pasangan Chinese Taipei, Sung Shuo Yun/Yu Chien Hui. Dalam laga berdurasi 37 menit itu, Ana/Tiwi tampil dominan dengan skor 21-10, 21-16.
Febriana mengungkapkan bahwa strategi permainan tanpa lob mereka terapkan untuk mengatasi kondisi lapangan yang berangin dan laju shuttlecock yang cepat.
“Hari ini kami menerapkan bermain no lob karena kondisi lapangan yang berangin dan shuttlecock yang cepat. Tapi kami merasa kami belum konsisten dengan pola permainan seperti itu,” ujar Febriana.
Meski menang relatif nyaman, pasangan Indonesia itu sempat kehilangan beberapa poin di gim kedua ketika lawan mulai memperlambat tempo permainan.
“Besok kami harus lebih waspada dan harus bisa main lebih cepat,” tambahnya.
Sebaliknya, hasil kurang menggembirakan dialami tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting. Ia harus mengakui keunggulan Brian Yang (Kanada) setelah bertarung tiga gim, dengan skor 21-9, 16-21, 14-21.
Ginting yang sempat tampil dominan di gim pertama, mengakui kesulitan beradaptasi dengan kondisi lapangan yang berangin, serta karakter shuttlecock yang berbeda dengan saat latihan.
“Memang kondisi di sini cukup terasa menang dan kalah anginnya dan itu membuat saya kurang bisa menerapkan strategi yang disiplin dan banyak mati sendiri. Itu membuat lawan lebih percaya diri,” jelas Ginting.
Meski kembali tersingkir lebih awal seperti di Jepang Terbuka pekan lalu, Ginting tetap mengambil sisi positif dari dua turnamen tersebut. Dia menilai performanya saat ini baru berada di kisaran 60–70 persen dan masih membutuhkan adaptasi untuk kembali ke performa terbaiknya.
“Hasil positif yang bisa saya ambil adalah bisa merasakan lagi atmosfer pertandingan, tekanannya, tegang di dalam lapangannya. Bukan hanya tentang diri sendiri tapi faktor eksternal seperti bagaimana menjawab strategi lawan dengan cepat, adaptasi cepat, juga ada faktor lapangan dan shuttlecock yang berbeda,” ujarnya. (*/pbsi.id)













