JAKARTA, DAN – Selebrasi ‘Aura Farming’ yang dilakukan striker muda Jens Raven usai mencetak gol kembali menuai perhatian. Selebrasi yang belakangan viral dan disebut-sebut terinspirasi dari gaya tarian Pacu Jalur itu langsung mendapat teguran keras dari pelatih kepala Gerald Vanenburg.
Meskipun awalnya berakar dari budaya lokal Pacu Jalur yang kemudian diparodikan secara luas di media sosial, Vanenburg menilai bahwa gerakan tersebut tak pantas dibawa ke lapangan dalam konteks pertandingan profesional. Ia menekankan pentingnya menjaga sikap respek kepada lawan dan menjunjung tinggi sportivitas.
Raven sendiri mengakui selebrasi tersebut merupakan bentuk spontanitas yang didasari janji pribadi kepada seseorang sebelum laga berlangsung.
“Saya telah membuat janji kepada seseorang sebelum laga untuk melakukan dansa yang viral itu. Tapi itu hanya sekali. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” ujar Raven.
Kendati memahami alasan pribadi pemainnya, Vanenburg mengambil sikap tegas. Menurutnya, hal-hal seperti ini perlu segera diluruskan agar tidak menjadi kebiasaan yang justru merugikan tim.
“Selebrasi itu memang sedang viral dan katanya terinspirasi dari Pacu Jalur. Tapi di lapangan, hal itu bisa disalahartikan. Saya sudah bicara dengan Jens, dan saya bilang langsung: kalau dia melakukannya lagi, dia tidak akan bermain,” tegas Vanenburg.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal yang diangkat ke ranah publik, apalagi olahraga, perlu dijaga konteks dan esensinya. Vanenburg berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran tidak hanya bagi Raven, tapi juga seluruh pemain muda agar lebih bijak dalam mengekspresikan diri di atas lapangan. (net)














