SIKAPNYA yang tenang dan tutur katanya yang bersahaja, Felicita Gracia menyimpan bara semangat yang menyala untuk satu hal: menemukan jawaban atas tantangan medis melalui riset ilmiah. Sebagai mahasiswi Jurusan Kedokteran angkatan 2024 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Negeri Bangka Belitung (UBB), Felicita membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk menapaki jalur akademik yang serius, bahkan untuk bidang sekompleks bedah saraf.
Lahir di Bangka pada 22 September 2005, Felicita dikenal sebagai sosok yang tekun dan kritis. Di tengah padatnya perkuliahan kedokteran, ia masih sempat mengejar minatnya dalam kompetisi ilmiah.
Dua ajang bergengsi berhasil ia taklukkan: olimpiade bertema Infeksi Tropis dan National Health Debate, Felicita berhasil melaju hingga ke babak semifinal. Baginya, kompetisi bukan sekadar ajang adu pintar, tapi sebuah batu loncatan untuk meretas jalan menuju dunia riset medis yang lebih luas.
Langkah besarnya mulai tampak saat mengikuti seminar nasional SOOCA FKIA FK UNSRI 2024. Di sana, Felicita tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi aktif membangun jejaring kolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai kampus. Pertemuan itu menjadi awal lahirnya beberapa proyek bersama, termasuk penelitian systematic review dan meta-analysis, dua pendekatan ilmiah yang menuntut ketelitian tinggi dan analisis mendalam.
Kemampuan riset Felicita semakin terasah saat ia dan dua rekannya mengirimkan karya ilmiah mereka ke ajang lomba literature review tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Riau. Karya mereka yang bertajuk “Tinjauan Komprehensif Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Pasien Kanker Payudara dalam Menjalani Kemoterapi di Indonesia” sukses menembus babak final dan dipresentasikan langsung di hadapan para juri.
“Saya percaya, riset adalah kunci untuk menjawab berbagai persoalan medis di lapangan. Dan dari sanalah saya ingin berkontribusi,” ujarnya mantap.
Namun pencapaian Felicita tak berhenti di situ. Pada Juni 2025, ia kembali hadir dalam forum ilmiah nasional yang lebih menantang: “1st Riau Educational Surgery Meeting”, bagian dari rangkaian acara 7th Riau Medical Symposium & Expo (RIME). Bersama tim multidisiplin dari UBB, Universitas Riau, dan Universitas Pattimura, Felicita turut menyusun riset bertema: “Diagnostic Value of Cerebrospinal Fluid Lactate for Early Detection of Postoperative Bacterial Meningitis Following Neurosurgical Procedures: A Diagnostic Meta-Analysis.”
Penelitian ini memakan waktu hampir dua bulan, disusun di tengah jadwal kuliah yang padat. Tak hanya lintas kampus, tim ini juga melibatkan dua klinisi ahli, dr. Sry Rejeki, Sp.MK dan dr. Enny Marziah, M.Ked. (Clin Path), Sp.PK. Abstrak riset mereka akhirnya lolos seleksi dan dipresentasikan dalam sesi poster oral di hadapan residen bedah dan anestesi dari kampus-kampus ternama seperti Universitas Indonesia dan Universitas Sumatera Utara.
“Bisa berdiskusi langsung dengan para residen dan dokter spesialis memberi saya pengalaman yang sangat berharga. Saya merasa seperti diberi kesempatan untuk belajar dari para praktisi terbaik,” ujar Felicita dengan mata berbinar.
Kini, riset tersebut sedang dipersiapkan untuk publikasi internasional, dengan harapan bisa berkontribusi nyata dalam pengembangan deteksi dini meningitis pasca operasi bedah saraf.
Felicita mungkin masih mahasiswa tingkat awal, tetapi langkah-langkahnya dalam dunia riset telah menapaki jalur yang jarang dilalui. Di antara tumpukan jurnal, diskusi ilmiah, dan mimpi-mimpi besarnya, satu hal yang tetap ia pegang: ‘Riset bukan hanya tentang angka dan data, tapi tentang harapan bagi pasien di masa depan’. (*/ubb.ac.id)














