DI balik bangku perkuliahan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dianto menyimpan cerita tentang bagaimana sebuah sekolah berasrama di Bangka Belitung mengubah arah hidupnya. Lahir dan besar di Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, Dianto adalah satu dari ratusan anak daerah yang sempat nyaris terhenti langkahnya setelah lulus SMP. Namun sebuah peluang dari Program Pemali Boarding School PT Timah membukakan pintu baru—pintu yang membawanya menemukan jati diri melalui kedisiplinan dan pembinaan karakter.
“Tertekan.” Begitu kata pertama yang muncul dari Dianto saat mengenang awal mula masuk ke program yang dulu dikenal sebagai kelas unggulan. Di tahun 2017, ia lolos seleksi program beasiswa dari PT Timah dan resmi menjadi bagian dari Pemali Boarding School—program yang menyatukan pendidikan formal di SMAN 1 Pemali dengan pembinaan karakter di lingkungan asrama.
Bagi Dianto, yang terbiasa hidup bebas bersama neneknya, ritme hidup di asrama adalah kejutan besar. Setiap jam diatur, mulai dari belajar hingga makan.
“Semua terstruktur, semuanya disiplin. Awalnya saya merasa dikekang,” ujarnya.
Namun pengalaman ini perlahan mengukir perubahan besar dalam dirinya.
Setelah lulus pada tahun 2020 dan melanjutkan kuliah, Dianto mulai merasakan betapa pola hidup disiplin itu menjadi kekuatan tersendiri.
“Di asrama saya belajar memanajemen waktu. Sekarang, ketika jadi mahasiswa, saya tidak kaget dengan beban tugas dan tuntutan mandiri,” tuturnya.
Disiplin bukan sekadar bangun pagi dan ikut jadwal. Di Pemali Boarding School, disiplin menjadi fondasi dari pembangunan karakter. Para siswa dibentuk untuk bertanggung jawab, bekerja dalam tim, dan mengenal potensi diri. Pembinaan ini tak hanya dalam bentuk aturan harian, tetapi juga melalui kegiatan pengembangan diri seperti pelatihan kepemimpinan, keterampilan menulis, hingga kelas bahasa Inggris tambahan.
Dianto mengaku menjadi salah satu siswa yang sering diberi kepercayaan mengikuti kegiatan di luar sekolah, bahkan sampai ke luar daerah. Pengalaman itu memperluas wawasannya dan menumbuhkan kepercayaan diri.
“Yang paling saya rasakan manfaatnya sekarang adalah pelatihan menulis. Dulu kami diajarkan menulis esai, membuat jurnal. Sekarang saat kuliah, itu sangat membantu,” katanya.
Menurutnya, pengurus asrama bukan hanya mengatur, tapi juga mendampingi dan menggali potensi siswa.
“Kami didorong untuk berkembang, bukan hanya secara akademis, tapi juga sebagai pribadi,” ungkapnya.
Kini, ketika telah menempuh jalur akademik sebagai mahasiswa, Dianto melihat kembali masa-masa di asrama sebagai fase penting dalam hidupnya. Ia berharap program Pemali Boarding School terus berjalan dan semakin tepat sasaran dalam menjaring siswa-siswi dari daerah yang membutuhkan.
“PT Timah sudah banyak membantu. Harapan saya, program ini terus berlanjut dan makin banyak anak-anak seperti saya yang diberi kesempatan,” ucapnya.
Ia juga menitipkan pesan kepada calon-calon siswa Pemali Boarding School: jangan takut pada proses.
“Jalani saja. Disiplin itu bukan beban, tapi bekal. Nanti kalian akan sadar, seperti saya sekarang, bahwa program ini bukan hanya membentuk siswa—tapi membentuk karakter dan masa depan”. (*/timah.com)













