BangkaDaerahFeaturePendidikan & Budaya

Langkah Awal Rival: Merajut Cita di Pemali Boarding School

×

Langkah Awal Rival: Merajut Cita di Pemali Boarding School

Sebarkan artikel ini

DI balik hiruk-pikuk aktivitas belajar di Pemali Boarding School, terselip kisah seorang pelajar tangguh asal Kabupaten Kepulauan Meranti, Muhammad Rival Alabrasi. Usianya masih belia, namun tekadnya telah melintasi batas pulau dan jarak. Ia adalah satu dari sekian siswa terpilih yang mendapat kesempatan emas dari program beasiswa Pemali Boarding School, sebuah inisiatif pendidikan dari PT Timah yang telah berjalan lebih dari dua dekade.

Program ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. Di bawah payung besar visi PT Timah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, program ini menghadirkan ekosistem belajar yang lengkap. Para siswa, seperti Rival, tak hanya mendapat pembiayaan penuh untuk bersekolah di SMAN 1 Pemali, namun juga difasilitasi asrama, kebutuhan sehari-hari, hingga pendampingan moral dan mental untuk mendukung perjuangan mereka jauh dari kampung halaman. Baginya, menerima kabar kelulusan ke Pemali Boarding School adalah momen penuh suka cita.

“Setelah tahu keterima, Rival senang sekali. Apalagi ini impian Rival—merantau ke luar Riau,” kisahnya.

Namun seperti banyak kisah perantauan lainnya, kebahagiaan itu diiringi rasa haru. Meninggalkan orang tua, lingkungan yang familiar, dan kenyamanan rumah adalah tantangan yang harus ia taklukkan di usia muda.

“Dulu terasa banget sedihnya karena biasanya hidup sama orang tua, ada yang marah dan menasihati. Tapi Alhamdulillah, itu semua jadi proses agar Rival bisa lebih disiplin,” lanjutnya.

Hari-hari awal di Pemali tak selalu mudah. Peraturan ketat, termasuk pembatasan penggunaan handphone, sempat membuatnya diliputi rasa rindu. Namun perlahan, atmosfer hangat di asrama dan kekuatan solidaritas sesama siswa mulai membentuk rasa nyaman.

“Awal-awal memang belum boleh pegang handphone, jadi sering penasaran kabar orang tua, tapi lingkungan di sini nyaman, sering curhat sama teman kalau lagi kangen rumah. Fasilitas juga lengkap, jadi makin semangat belajar,” ujarnya dengan senyum.

Tak hanya ilmu dan kedisiplinan yang ia pelajari, Rival juga menemukan pengalaman baru yang memperluas pandangannya tentang keberagaman budaya Indonesia. Di Bangka Belitung, ia pertama kali mengenal tradisi Nganggung—tradisi khas daerah yang tidak pernah ia temui di kampung halamannya di Riau.

“Di sini ada yang namanya Nganggung. Di Riau nggak ada. Terkesan banget karena jadi kenal budaya lain yang sebelumnya belum pernah Rival lihat,” tuturnya antusias.

Kini, Rival menatap masa depan dengan semangat yang menyala. Ia ingin membawa nama baik daerah asalnya, Kepulauan Meranti, ke pentas yang lebih tinggi. Ia percaya, pendidikan adalah kunci perubahan, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk masyarakat di sekitarnya.

“Rival pribadi sangat ingin membanggakan Kepulauan Meranti, dengan mengukir prestasi sebanyak-banyaknya,” ujarnya mantap.

Rival pun menyimpan harapan besar untuk keberlangsungan program Pemali Boarding School. Program yang telah membukakan pintu masa depan untuknya dan banyak siswa lainnya.

“Semoga ini terus berlanjut. Sangat-sangat bermanfaat untuk siswa yang kurang mampu seperti Rival. Semoga PT Timah terus maju, berjaya, dan selalu membantu masyarakat di sekitarnya,” tutupnya penuh harap. (*/timah.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *