Hari sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Namun, Masjid Alfurqan Kompleks Timah Bukit Baru Pangkalpinang malah terlihat ramai. Di dalam masjid, ratusan orang terlihat asyik berkelompok-kelompok dan ada pula yang sendiri-sendiri. Ada yang berdiskusi, ada yang terlihat bercengkrama, ada yang sedang melihat gawai, ada yang sedang sholat, banyak pula yang asyik dengan Qur’an.
PEMANDANGAN ini adalah hal yang lazim pada malam-malam 10 hari terakhir Bulan Suci Ramadhan di Masjid Al Furqan, selama 10 tahun terakhir. Kehadiran mereka adalah dalam rangka beri’tikaf di masjid, dalam upaya menggapai Lailatul Qadr.
Tak hanya kaum laki-laki, kaum perempuan pun terlihat memenuhi ruangan yang memang telah disiapkan khusus, termasuk ruang aula atau ruang pertemuan masjid Al Furqan pun dipenuhi kaum perempuan.
Di Kota Pangkalpinang, bahkan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tak banyak masjid yang menggelar kegiatan I’tikaf seperti di Masjid Alfurqan. Masjid Alfurqan bisa jadi adalah masjid pertama kali yang menggelar itikaf yang dikoordinir oleh panitia.
“Awalnya, kita baru ,pulang dari Jakarta. Lalu hasil diskusi dengan kawan kawan yang tergabung dalam Ikatan Dai Indonesia ( IKADI) Bangka Belitung, kita ingin menghidupkan I’tikaf di masjid AlFurqan Kompleks Timah. Kita ingin menghidupkan sunnah I’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Dan disepakatilah kita akan memakai masjid Alfurqan,” cerita Ustazd H. Ahmad Bastari M. Nur, LC., Ketua Panitia I’tikaf Masjid Alfurqan kepada Infoupdate.co disela-sela sahur di Masjid Alfurqan (27/3/2025).
Mengapa dipilih Masjid Al Furqan?
“Karena di sinikan sudah banyak kegiatan-kegiatan ke-Islam-an, Jadi kita waktu itu hanya meminjam tempat untuk memakai masjid untuk kegiatan kita. Berjalan tahun, kita dilihat pengurus bahwa pesertanya makin banyak, dan sampai kepada pihak masjid melihat perkembangan yang makin pesat, maka pihak masjid makin mensupport kegiatan ini,” ujarnya.
Saat pertama kali menggelar I’tikaf di Masjid Al Furqan, respon masyarakat menurut Ustadz Bastari yang merupakan Pemimpin Pesantren Al-Qur’an Taajul Waqaar di Tua Tunu Pangkalpinang ini cukup menggembirakan.
“Alhamdulillah awalnya puluhan orang saja. Ituapun pada malam genap, pesertanya hanya setengah dibandikan pada malam ganjil. Alhamdulillah setelah diberi motivasi, penegasan bahwa mencari lailatul qadr itu bukan hanya malam ganjil. Harusnya mulai dari awal Ramadhan dan dengan konsisiten dalam berusaha untuk menggapainya. Alhamdulillah sekarang ini peserta sudah makin banyak dan tidak begitu berbeda pesertanya pada malam ganjil maupun genap. ,” ungkap Ustadz Bastari.
Sekitar 4 tahun lalu kegiatan I’tikaf di Masjid Al Furqan sempat terhenti dan dipindahkan ke Masjid Al Fitrah Bukit Merapin Pangkalpinang. Penyebabnya, Masjid Al Furqan direnovasi secara besar-besaran.
“Kalau dak salah dua tahun kita I’tikaf di Masjid Al Fitrah,” imbuhnya.
Selama me gikuti I’tikaf, para peserta dapat mengikuti berbagai kegiatan. Di antaranya kajian keislaman yang biasanya dilakukan setekah sholat tarawih dan witir berjamaah. Kemudian sekitar pukul 01.30 WIB, peserta mengikuti sholat tahajud. Sholat tahajud dengan 8 rokaat ini cukup lama, karena imam menyelesaikan bacaan 1 juz Qur’an dalam 8 rokaat tersebut.
Kemudian sekitar pukul 03.30 WIB, Sahur bersama dan dilanjutkan dengan Sholat Subuh berjamaah.
“Awalnya kita menggelar I’tikaf bersama di masjid ini, tidak ada kajian. Hanya kita memberikan motivasi. Untuk tahajud pun awalnya masih mandiri, masing-masing tidak jamaah. Lalu kita gelar berjamaah namun belum satu juz satu malam, hanya surat-surat tertentu saja,” katanya.
Untuk imam sholat tahajud kata Ustadz Bastari, awalnya dilakukan bergantian.
“Pernah dulu Ustadz Sulahuddin, Ustadz Indra Yasin, ya kita-kita lah yang jadi imam. Lalu setelah Muhammad Muslim Al Fatih pulang ke Bangka dan sudah hafal 30 juznya, maka saya dorong dan latih untuk jadi imam. Dan diawali hanya setengah juz, itupun cukup lama sekitar 2 tahun kita hanya setengah juz. Awalnya berat banget. Namun alhamdulillah sekarang sudah 1 juz tiap malam namun imamnya tetap Fatih,” papar Ustadz Bastari sembari menyebutkan Muhammad Muslim Al Fatih, hafal qur’an 30 juz sejak umur 13 tahun. .
“Untuk imam ini bukan tidak ada orang lain yang bisa. Kan banyak yang lebih bagus bacaannya, lebih mutkin bacaannya, lebih tartil. Namun belumada yang mau dan siap untuk jadi imam Tahadjud 1 malam 1 juz secara konsisten selama 10 hari, itu belum ada yang mau. Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah, sebagai orang tua Muhammad Fatih saya bahagia. Saya hanya mengharapkan berkah dari Allah SWT. Saya pernah menawarkan kepada seorahg temannya, suaranya bagus dan lebih mutkin dari fatih, tapi dianya nggak siap,” kata Ustadz Bastari.
Selain I’tikaf, ada kajian keislaman. Mulai dari 4 tahun yang lalu, awalnya kajian dilakukan tiap malam. “Namun karena melihat pesertanya kalau malam genap, hadirnya agak sepi, sampai menjelang jam 10 malam baru ramainya. Kan nggak mungkin kita mulainya jam 10 an. Makanya diputuskan kajian hanya dilakukan pada malam ganjil saja. Walaupun malam ganjil pun pesertanya telat juga datangnya, karena kebanyakn yang datang bukan dimulai dari waktu Isya, karena kesibukan dan kegiatan lain,’ ungkapnya.
Untuk sahur, awalnya menurut Ustadz Bastari, para peserta dikenakan biaya Rp20 ribu permalam. “Awalnya dulu kita berbayar, Rp20 ribu permalam, kemudian dicover oleh PT Timah dengan kita sendiri yang belanja untuk makan sahur dllnya, kemudian dikateringkan. Tapi ternyata Kateringnya tidak sanggup. Lalu kita ke salah satu rumah makan yang ada di Pangkalpinang, alhamdulillah jalan, walaupun memang sempat ada juga gangguannya, sampai sekarang tetap dengan rumah makan itu, paling kita ganti menu. Jadi panitia hanya tinggal menerima.
Tak hanya untuk makan minum, biaya sebesar Rp20 ribu permalam per orang ini juga digunakan untuk pembelian alat-alat kebersihan, sabun dan lain-lain.
“Sekitar 5 tahun berbayarnya. Tapi sekarang semua gratis, semua dari masjid. Bahkan sekarang ditambah kopi, termasuk plastik sampah dan lainnya,” kata Ustadz Bastari.
Apa suka dukanya?
“Awal-awalnya peserta untuk membangunkan tahadjud, masih belum dengan kesadaran sendiri, masih kita harus rajin membangunkan, terutama anak-anak. Selain itu juga saat Sholat tadjud, banyak yang ribut. Bahkan ada yang datang ke sekitar masjid bukan untuk sholat tapi malah main petasan. Kita bahkan sempat minta bantuan sekuriti kompleks untuk pengamannya. Sempat juga kejadian tas peserta kecurian pas lagi sholat. Akhirnya kita bikin penjagaan sekarang ini. Tapi alhamdulillah sekarang sudah sangat baik,” katanya.
“Satu lagi soal makan sahur yang telat. Ada dua kali kejadian, saya sebagai ketua deg-degan, khawatir sekali peserta ada yang tak makan sahur. Yang pertama itu telat datang dengan alasan, pekerjaan itu di sub kan (diserahkan ke bebrapa pihak). Lalu ada juga kejadian, pihak pengada makanan sahur itubtelah karena alasan gas mereka habis. Kita awalnya hubungi gak bisa. Inikan gawat, kalau ada peserta itikaf yang tak sahur. Akhirnya kita putuskan ganti pihak pengadaan makan sahur ini,” imbuhnya.
Alhamdulillah sekarang ini lanjut Ustadz Bastari, dengan seiring waktu, peserta sudah makin sadar, sekarang makin tertib.
“Kita sangat bahagia jika melihat peserta dapat dengan tenang dalam beribadahnya, dan pesertanya juga makin bertambah. Dan satu hal lagi, sekarang makin banyak masjid yang melaksanakan sunnah I’tikafnya, diantaranya di Masjid Al Fitrah, dan Darul Ikhwan Kerabut juga ada. Tidak banyak pengurus masjid yang siap atau mau untuk menggelar sunnah itikaf di masjidnya. Ini tergantung paradigma pengurusnya,” tandas Ustadz Bastari.
Ia berharap makin banyak pengurus masjid di Pangkalpinang ini, paling tidak mempersilahkan jika ada jamaahnya mau itikaf.
“Itu saja dulu, dia tidak anti. Dulu waktu saya di Jakarta, itu ada pengurus yang anti itikaf, dan kita diusir dengan berbagai macam alasan. Dan harapan kita juga khusunya di Masjid Alfurqan ini, kita bisa lebih rapi, teratur, lebih baik ke depan dan jamaah makin bertambah. Walaupun mungkin ada jamaah yang dulunya itikaf di sini dan kemudian pindah ke tempat lain itu nggak apa-apa, malah bagus,” tambah Ustadz.
Saat ini, jumlah peserta I’tikaf di masjid al furqan sekitar 200 hingga 250 orang. “Yaa kita berharap semoga kegiatan ini membawa keberkahan untuk kita semua. KIta juga menyampaikan terimakasih kepada para Ketua dan Pengurus Masjid Al Furqan sejak zaman ketua masjidnya Pak Dokter Sofian Lubis dan beberapa ketua masjid termasuk Pak Dani Virsal yang juga pernah jadi Ketua Masjid Al Furqan ini, yang telah mendukung kegiatan I’tikaf bersama ini,” pungkas Ustadz Ahmad Bastari Lc. (***)














