BANGKA SELATAN, DAN – Penenggelaman artificial reef (terumbu buatan) yang dilakukan PT Timah Tbk di perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tidak hanya berhasil memperkaya ekosistem laut, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan hasil tangkapan nelayan setempat. Upaya ini menjadi langkah kolaboratif antara PT Timah dengan nelayan, komunitas lingkungan, Pemerintah Daerah, serta Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Babel.
Artificial reef yang ditenggelamkan di perairan Tanjung Kubu, Kabupaten Bangka Selatan, kini telah menunjukkan hasil positif. Struktur tersebut telah ditumbuhi terumbu karang alami dan menjadi habitat baru bagi berbagai jenis ikan karang dan cumi-cumi. Hal ini terungkap dalam kegiatan monitoring yang dilakukan pekan lalu oleh PT Timah bersama POSSI dan para nelayan Tanjung Kubu.
Ketua Umum POSSI Babel, Fahmi Fauzi menjelaskan bahwa saat penyelaman monitoring, ditemukan banyak spesies ikan di sekitar artificial reef.
“Tadi saat kami menyelam dan melakukan monitoring, banyak sekali dijumpai ikan karang antara lain ikan kakap merah, ikan merah, ikan seminyak, ikan tamban, ikan tande, ikan talang, ikan gerut, ikan krisi merah, ikan buntut kuning, ikan kerong-kerong, ikan duri, ikan anjang-anjang, ikan kerapu, ikan jebung, sotong,” jelasnya, Selasa (24/6/2025).
Menurut Fahmi, keberadaan artificial reef juga memiliki potensi wisata bahari yang besar dan dapat menjadi ikon reklamasi laut berbasis ekowisata di Bangka Belitung. Ia berharap PT Timah dapat terus melibatkan POSSI dalam kegiatan penenggelaman dan monitoring, sebagai bentuk dukungan terhadap konservasi laut dan pariwisata bawah laut.
Dampak langsung dari program ini juga dirasakan oleh nelayan Tanjung Kubu. Rispandi, salah satu nelayan yang ikut dalam kegiatan monitoring, mengatakan bahwa fish shelter tersebut telah memudahkan mereka mendapatkan ikan tanpa harus melaut terlalu jauh.
“Banyak manfaat yang dirasakan nelayan Tanjung Kubu dengan adanya fish shelter ini. Kami sudah tidak perlu jauh lagi melaut karena ikan-ikan sudah ngumpul di fish shelter. Tadi juga tidak terlalu jauh jarak dari pantai dan tidak lama umpan pancing sudah dimakan ikan,” ungkapnya.
Rispandi menambahkan bahwa keberadaan artificial reef telah meningkatkan hasil tangkapan mereka secara signifikan.
“Sebelumnya, nelayan memperoleh hasil tangkapan berangkat subuh pulang sore, penghasilan hanya 10 kg. Sekarang sehari bisa 50 kg hasil tangkapan. Ya itu tadi, ikannya ikan super, seminyak, jarang gigi, kakap merah, apalagi saat ini sedang musim cumi. Malam-malam banyak cumi berada di sekitar fish shelter,” ujarnya.
Program artificial reef ini merupakan bagian dari komitmen PT Timah dalam mendukung pelestarian lingkungan laut serta memberdayakan masyarakat pesisir secara berkelanjutan. Dengan adanya monitoring rutin dan partisipasi aktif berbagai pihak, ekosistem laut di Bangka Belitung kini semakin hidup dan produktif. (*/timah.com)













