PangkalpinangPendidikan & Budaya

Masmuni Mahatma: Salah Satu Hikmah Isra’ Mikraj adalah Belajar Bernegosiasi demi Umat

×

Masmuni Mahatma: Salah Satu Hikmah Isra’ Mikraj adalah Belajar Bernegosiasi demi Umat

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, DAN – Salah satu hikmah dari peristiwa Isra’ Mikraj Nabi Besar Muhammad SAW, yang paling mudah adalah belajar bernegosiasi.  Seperti kita ketahui dan yakini bersama bahwa dalam kejadian itu, Nabi Muhammad SAW melakukan negosiasi kepada Allah SWT untuk meminta keringanan atas perintah shalat yang diwajibkan, dari awalnya 50 kali hingga akhirnya menjadi 5 kali dalam sehari.

Hal ini dilakukan Rasulullah SAW bukan karena merasa tidak sanggup melaksanakan kewajiban itu, tapi lebih dikarenakan memikirkan kemampuan kita sebagai umatnya, hingga beliau pun menjadi negosiator berbasis kehambaan.

Demikian dipaparkan Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag., Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat memberikan sekelumit sambutan dalam acara peringatan Isra Mikraj, ruwahan dan menyambut bulan suci Ramadhan yang digelar Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang di Auditorium PLHUT Pangkalpinang pada Rabu (19/02/2025).

Padahal, sambungnya, kondisi fisik orang Arab kala itu memiliki postur tubuh tinggi dan gagah. Dengan kondisi itu pun beliau nilai umat ini akan sulit melaksanakan. Apalagi kita, umat akhir zaman yang dianugerahi postur tubuh yang biasa-biasa saja.

Dalam kegiatan bertajuk “Tebar Syiar Memupuk Ukhuwah” yang juga dihadiri Kepala Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang, H. Firmantasi beserta jajarannya dan tamu undangan dari unsur stakeholder terkait itu, Masmuni juga menegaskan, kepedulian Rasulullah kepada umatnya bukan hanya terlihat pada peristiwa itu saja, tapi hingga sepanjang hayatnya.

“Bahkan ketika menjelang wafat pun, kata-kata yang terlontar dari lisan beliau adalah Ummati, Ummati. Hal ini mencerminkan bahwa betapa sayang dan cintanya Rasulullah kepada kita,” ungkapnya.

Jadi, lanjut Masmuni, atas pengorbanan Rasulullah kepada kita itu, sudah sepatutnya, kita dapat meneladani akhlak dan sikap beliau, serta memiliki niat tulus untuk menjadi umat nabi Muhammad SAW secara kaffah.

“Terutama dalam hal menjalankan kewajiban shalat, bukan hanya secara fiqih dan syariat, tapi juga mengikuti mikrajnya nabi dengan mewujudkan ruh nya shalat,” ajaknya.

“Mari kita benahi sholat kita agar masuk dalam golongan orang-orang yang beruntung sebagaimana firman Allah dalam surah Al Mukminun, orang yang khusyuk dalam shalatnya, yang menyadari bahwa pada saat shalat itulah dirinya bertemu dengan Allah,” tandasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *