BangkaDaerahPendidikan & Budaya

Dosen UBB Kaji Resiliensi Etnis Tionghoa dan Harmoni Sosial di Bangka

×

Dosen UBB Kaji Resiliensi Etnis Tionghoa dan Harmoni Sosial di Bangka

Sebarkan artikel ini

BANGKA, DAN – Kearifan lokal dan modal sosial menjadi faktor penting dalam menjaga keharmonisan hubungan antaretnis dan agama di Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini menjadi fokus penelitian tim dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) yang mengkaji strategi resiliensi kelompok minoritas serta pembentukan identitas keberagamaan etnis Tionghoa di tengah masyarakat mayoritas Muslim.

Penelitian melalui skema Riset Kompetisi Terbatas (RKT) Unggul tersebut menyoroti bagaimana masyarakat Tionghoa mempertahankan identitas keberagamaannya sekaligus membangun hubungan sosial yang inklusif. Kajian ini berada dalam bidang unggulan Pendidikan dan Sosial Humaniora, dengan Dr. Sujadmi, S.Sos., M.A., sebagai ketua tim peneliti, bersama anggota Dr. Sigit Nugroho, S.H., M.H., dan Irwan, M.Sos.

Informasi penelitian disampaikan Sujadmi dalam wawancara pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Kabupaten Bangka. Tim peneliti mendalami pola adaptasi kultural, dinamika relasi sosial, serta peran nilai-nilai lokal dalam membangun interaksi yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah nilai budaya Fan Ngin Tong Ngin, yang dimaknai sebagai Melayu dan Tionghoa sama saja, serta kearifan lokal Bangka Sepintu Sedulang. Kedua nilai tersebut merepresentasikan semangat kebersamaan, saling menghormati, dan gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Bangka.

Ketua tim peneliti, Dr. Sujadmi, menjelaskan bahwa keharmonisan antara kelompok mayoritas dan minoritas tidak terbentuk secara pasif. Hubungan tersebut tumbuh melalui proses negosiasi identitas yang dinamis dalam kehidupan sehari-hari.

“Kehidupan berdampingan di Bangka bertumpu pada kapasitas resiliensi minoritas yang mampu merawat identitas keberagamaannya secara konsisten, sekaligus membuka ruang negosiasi sosial yang inklusif bersama masyarakat mayoritas,” ujar Sujadmi.

Anggota tim peneliti, Irwan, menambahkan bahwa hubungan antara kelompok minoritas dan mayoritas di Bangka telah terjalin dalam waktu yang panjang. Menurutnya, keharmonisan tersebut tercermin melalui interaksi sosial dan hubungan antarkelompok yang berlangsung dengan baik.

“Seperti kita ketahui, hampir tidak ada sejarah di Bangka yang berkaitan dengan konflik minoritas dan mayoritas ini. Bahkan, perubahan masyarakat dari setiap periode semuanya terjalin dengan cukup baik dan harmonis,” paparnya.

Gambaran keharmonisan tersebut juga terlihat dalam kehidupan masyarakat di tingkat dusun. Kepala Dusun Air Duyung, Leonardi (43), mengatakan bahwa warga dari berbagai latar belakang etnis dan agama berinteraksi tanpa membedakan satu sama lain, termasuk dalam kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.

“Sejauh ini tidak ada perbedaan, baik antara Tionghoa maupun Melayu dan yang lainnya, termasuk dalam pengurusan administrasi maupun izin kegiatan keagamaan warga Tionghoa. Semuanya berjalan dengan aman dan kondusif. Justru saya rasa di sini sangat unik karena sesama warga saling membantu dan tolong-menolong dalam setiap kegiatan keagamaan,” ujar Leonardi.

Dari perspektif warga Tionghoa, AJ (73) mengungkapkan bahwa tradisi dan ajaran leluhur tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Meski menjadi bagian dari kelompok minoritas, ia mengaku dapat menjalani kehidupan bermasyarakat dengan baik tanpa mengalami persoalan dalam hubungan dengan tetangga maupun warga sekitar.

“Sejak lahir kami dibesarkan dalam ajaran dan tradisi leluhur, sehingga keyakinan ini tetap kami pegang teguh. Meskipun menjadi minoritas, kami tidak merasa ada masalah dengan warga, tetangga, maupun masyarakat sekitar. Syukurnya, di Bangka ini semuanya baik dan saya rasa tidak ada masalah minoritas ataupun mayoritas,” tuturnya.

Kondisi serupa juga dirasakan dalam lingkungan profesional. Yenni (36), seorang pegawai negeri sipil keturunan Tionghoa, menyebut bahwa kesempatan untuk berkontribusi di tempat kerja terbuka bagi setiap individu tanpa dibatasi latar belakang etnis maupun agama.

“Sebagai PNS, saya merasakan tidak ada sekat ataupun perlakuan yang membedakan di lingkungan kerja. Kesempatan berkontribusi bagi masyarakat terbuka luas bagi siapa saja yang mengedepankan profesionalitas dan nilai kejujuran, karena jujur itu penting,” ungkap Yenni.

Sementara itu, Jonathan (20), mahasiswa keturunan Tionghoa, menilai bahwa menjaga keharmonisan dapat dilakukan melalui interaksi sosial dan partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan. Sikap saling menghormati, menurutnya, juga diwujudkan dengan menyesuaikan diri terhadap aktivitas keagamaan warga di lingkungan tempat tinggal.

“Kami selalu berupaya hadir apabila diundang dalam kegiatan keagamaan tetangga Muslim, seperti acara Maulid atau tahlilan. Sebaliknya, saat ritual Tionghoa dilaksanakan, kami juga menyesuaikan diri, misalnya menahan diri untuk tidak membunyikan petasan saat azan berkumandang demi menjaga rasa saling menghargai,” kata Jonathan.

Nilai toleransi tersebut turut dirasakan generasi muda. Eleonora (15), siswi SMA keturunan Tionghoa, mengatakan bahwa perbedaan etnis dan agama tidak menjadi penghalang dalam membangun hubungan pertemanan di sekolah.

“Di sekolah, hubungan dengan teman-teman Muslim sangat dekat. Kami belajar dan beraktivitas bersama tanpa pernah memandang perbedaan suku atau agama sebagai penghalang,” tutur Eleonora.

Penelitian tim dosen UBB ini menempatkan pengalaman masyarakat sebagai bagian penting dalam memahami resiliensi kelompok minoritas dan dinamika hubungan antaretnis di Bangka. Interaksi di lingkungan tempat tinggal, sekolah, pekerjaan, hingga kegiatan keagamaan memperlihatkan bagaimana nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui skema RKT Unggul, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu sosial humaniora, khususnya dalam kajian relasi antaretnis, identitas keberagamaan, dan harmoni sosial. Hasilnya juga diharapkan menjadi bahan refleksi untuk memperkuat toleransi serta mendorong kehidupan masyarakat yang inklusif di tengah keberagaman. (*/ubb.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *