BANGKA, DAN – Sebanyak 79 peserta dari 10 perguruan tinggi di Indonesia mengikuti Seminar Nasional Unggulan Jurusan Perikanan dan Kelautan (SEMUJUR PIK 2) yang diselenggarakan Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (FPPK), Universitas Bangka Belitung (UBB), secara daring pada 21–22 Oktober 2026. Seminar ini menjadi forum pertukaran gagasan dan hasil penelitian untuk mendorong inovasi berbasis ekonomi biru, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan resiliensi wilayah kepulauan.
Mengusung tema “Inovasi Teknologi dan Kelautan Berbasis Blue Economy untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Resiliensi Wilayah Kepulauan”, kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi untuk membahas pengembangan teknologi perikanan, pengelolaan sumber daya laut, serta pelestarian ekosistem pesisir. Berbagai perspektif tersebut menjadi bagian dari upaya mencari solusi atas tantangan pembangunan sektor perikanan dan kelautan yang produktif sekaligus berkelanjutan.
Dari total 79 peserta, sebanyak 75 orang mengikuti presentasi makalah ilmiah, sedangkan empat lainnya menyajikan poster penelitian. Karya-karya tersebut mengangkat beragam persoalan dan potensi pengembangan sektor perikanan dan kelautan di Indonesia, mulai dari ketahanan pangan, inovasi teknologi, hingga konservasi keanekaragaman hayati.
Kegiatan diawali dengan sambutan Rektor UBB, Prof. Dr. Ibrahim, M.Sc., dan Dekan FPPK UBB, Riwan Kusmiadi, M.Sc. Dalam sambutannya, Riwan berharap SEMUJUR PIK tidak hanya menjadi wadah penyampaian hasil penelitian, tetapi juga mampu mempertemukan para peneliti untuk membangun kolaborasi yang memberikan manfaat lebih luas bagi pengembangan sektor perikanan dan kelautan.
“Semoga gagasan ini bisa menjadi rekomendasi dan membangun sektor perikanan dan kelautan,” ujar Riwan.
Ketua Panitia SEMUJUR PIK 2, Ricky Hadi Pratama dari Program Studi Akuakultur UBB, menyampaikan harapan serupa. Menurutnya, seminar ini menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring akademik sekaligus membuka peluang penelitian bersama antarperguruan tinggi.
“Semoga acara ini menjadi langkah awal untuk menjalin kolaborasi bersama peneliti dan rekan-rekan yang mengikuti seminar ini,” ungkap Ricky.
Lima Narasumber Bahas Tantangan Perikanan dan Kelautan
SEMUJUR PIK 2 menghadirkan lima narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi yang membahas tantangan sektor perikanan dan kelautan dari perspektif ekonomi, teknologi, budidaya, hingga konservasi lingkungan. Pemaparan tersebut menegaskan pentingnya keterpaduan antara pemanfaatan sumber daya laut, peningkatan produktivitas, dan perlindungan ekosistem.
Ahmad Habibi, S.Pi., dari PT Cahaya Bintang Laut Abadi, mengulas perdagangan produk perikanan, termasuk rantai pasok serta dinamika ekspor dan impor. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga ketersediaan stok sumber daya perikanan di Bangka Belitung agar aktivitas ekonomi dapat terus berkembang tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber daya laut.
Dari perspektif ekologi, Prof. Dr. Ir. Rohani Ambo Rappe, M.Si., dari Universitas Hasanuddin, membahas pentingnya konservasi ekosistem lamun sebagai salah satu penopang keseimbangan lingkungan pesisir dan laut. Sementara itu, Prof. Dr. Julie Ekasari, S.Pi., M.Si., dari IPB University, memaparkan berbagai sistem akuakultur yang berpotensi diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung pengembangan usaha budidaya perikanan.
Aspek pengelolaan sumber daya juga menjadi perhatian melalui pemaparan Prof. Dr. Indra Gumay Yudha, M.Si., dari Universitas Lampung, mengenai pengelolaan dan konservasi kepiting rajungan. Materi tersebut menyoroti perlunya pengelolaan yang mempertimbangkan keberlanjutan populasi sekaligus menjaga manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sementara itu, Suci Puspita Sari, S.Si., M.Si., Ph.D., dari UBB, memaparkan perubahan bentang alam mangrove di Bangka Belitung dari masa lalu hingga saat ini. Kajian tersebut memberikan gambaran mengenai dinamika ekosistem pesisir yang perlu menjadi pertimbangan dalam perencanaan pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan kawasan pesisir secara berkelanjutan.
Beragam paparan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sektor perikanan dan kelautan tidak dapat hanya bertumpu pada peningkatan produksi. Inovasi teknologi perlu berjalan beriringan dengan konservasi, pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, serta upaya menjaga keseimbangan ekosistem.
Libatkan 10 Perguruan Tinggi, Buka Peluang Kolaborasi
Selain menghadirkan narasumber, SEMUJUR PIK 2 memfasilitasi presentasi makalah ilmiah dan poster selama dua hari pelaksanaan. Kegiatan ini mencakup lima subtema utama, yaitu ketahanan pangan, inovasi teknologi perikanan, restorasi dan rehabilitasi serta perubahan iklim, ekonomi biru (blue economy), dan biodiversitas.
Sepuluh perguruan tinggi yang berpartisipasi meliputi Universitas Bangka Belitung, Universitas Borneo Tarakan, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Lampung, Universitas Diponegoro, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Riau, Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Politeknik Negeri Lampung, dan Universitas Bengkulu.
Keterlibatan berbagai perguruan tinggi tersebut memperluas ruang pertukaran pengetahuan sekaligus membuka peluang pengembangan penelitian bersama. Kolaborasi lintas institusi diharapkan dapat memperkaya perspektif ilmiah dalam menjawab persoalan perikanan dan kelautan yang dihadapi berbagai daerah di Indonesia.
Bagi Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan, penerapan ekonomi biru memiliki relevansi strategis karena berkaitan langsung dengan potensi sumber daya laut, keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pesisir, dan ketahanan pangan. Pendekatan ini mendorong pemanfaatan potensi ekonomi kelautan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.
Dalam rangka memperluas jejaring kelembagaan, SEMUJUR PIK 2 juga mengagendakan penandatanganan kerja sama antara Jurusan Perikanan dan Kelautan UBB dengan perguruan tinggi di luar Bangka Belitung, termasuk Politeknik Negeri Pontianak. Kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan keilmuan.
Pada penutupan seminar yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026, panitia juga merencanakan pemberian penghargaan Best Speaker sebagai bentuk apresiasi kepada pemakalah dengan kualitas presentasi terbaik.
Melalui SEMUJUR PIK 2, Jurusan Perikanan dan Kelautan UBB berupaya mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi gagasan dan rekomendasi yang relevan dengan kebutuhan sektor perikanan dan kelautan. Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan wilayah kepulauan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas institusi.
Dengan mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman industri, dan kebutuhan masyarakat, hasil seminar diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengelolaan potensi kelautan Bangka Belitung secara lebih produktif dan berkelanjutan. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, menjaga ekosistem laut, serta meningkatkan manfaat ekonomi sumber daya kelautan bagi masyarakat pesisir. (*/ubb.ac.id)















