JENEPONTO, DAN – PT PLN (Persero) menyiapkan tambahan pasokan listrik hingga 627 megawatt (MW) untuk memperkuat sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) yang tengah menghadapi tekanan pasokan akibat gangguan pembangkit dan penurunan daya mampu pembangkit hidro. Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo memimpin langsung upaya penguatan sistem tersebut dengan menginspeksi sejumlah pembangkit di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Senin (14/9/2026). PLN juga mengoptimalkan seluruh pembangkit yang masih tersedia sembari mempercepat pemulihan pembangkit yang mengalami gangguan.
Dalam inspeksinya, Darmawan meninjau proses perbaikan PLTU Jeneponto berkapasitas 2 x 100 MW milik swasta yang mengalami gangguan teknis. Gangguan tersebut turut mengurangi pasokan listrik ke sistem Sulbagsel sehingga PLN mendorong percepatan perbaikan agar pembangkit dapat segera kembali beroperasi.
“Setiap megawatt sangat berarti dalam kondisi seperti ini. Karena itu, kami membantu mempercepat perbaikan PLTU Jeneponto agar dapat segera kembali masuk ke sistem,” ujarnya.
Darmawan menambahkan, PLN secara bersamaan terus mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan pasokan hingga 627 MW. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik di sistem Sulbagsel.
Tekanan pasokan listrik Sulbagsel tidak hanya dipengaruhi gangguan PLTU Jeneponto, tetapi juga penurunan daya mampu pembangkit hidro akibat kondisi hidrologi yang terdampak fenomena El Niño. Sejumlah pembangkit hidro, seperti PLTA Poso, Bakaru, Malea, serta beberapa PLTM, mengalami penurunan produksi.
Darmawan menyebut, daya mampu agregat pembangkit hidro yang sebelumnya berada di kisaran 850 MW kini turun menjadi sekitar 250 MW. Artinya, terdapat penurunan daya mampu sekitar 600 MW yang memberikan tekanan signifikan terhadap keandalan pasokan listrik di sistem Sulbagsel.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PLN juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan potensi ketersediaan air yang dibutuhkan pembangkit hidro.
Namun, Darmawan menegaskan, pelaksanaan TMC masih menghadapi tantangan karena kondisi atmosfer yang relatif kering. Kondisi tersebut membuat ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai masih terbatas.
“Seluruh langkah ini kami jalankan secara paralel. Kami menargetkan pada akhir September 2026 pasokan dan kebutuhan listrik Sulbagsel dapat berangsur seimbang kembali,” katanya.
Menurut Darmawan, PLN terus mengawal dan mengevaluasi kondisi sistem kelistrikan Sulbagsel dari hari ke hari untuk memastikan langkah pemulihan berjalan sesuai target. Upaya tersebut mencakup percepatan pemulihan pembangkit, optimalisasi pembangkit yang tersedia, hingga penambahan kapasitas pasokan.
Untuk memperkuat ketahanan sistem dalam jangka panjang, PLN juga menyiapkan pengembangan pembangkit energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi. Rencana tersebut mencakup sekitar 5,2 gigawatt peak (GWp) PLTS dan 8,2 gigawatt hour (GWh) battery energy storage system (BESS). (*/red)















