Nasional & InternasionalOlahraga

Malen, Dia, dan Esposito: Tiga Wajah Berbeda Striker Serie A di Pekan Perdana

×

Malen, Dia, dan Esposito: Tiga Wajah Berbeda Striker Serie A di Pekan Perdana

Sebarkan artikel ini
Striker AS Roma, Donyell Malen. (Sumbe Foto: asroma.com)

ROMA, DAN – Pekan perdana Serie A Enilive 2026/27 menghadirkan tiga penyerang dengan karakter permainan yang berbeda. Donyell Malen tampil sebagai predator kotak penalti, Boulayé Dia menunjukkan perannya sebagai penyerang kreatif, sementara Pio Esposito memperlihatkan paket komplet sebagai striker modern.

Ketiganya menjadi sorotan setelah tampil dengan karakteristik masing-masing pada pertandingan pembuka musim. Analisis Lega Serie A menempatkan Malen, Dia, dan Esposito sebagai contoh bagaimana seorang penyerang tengah dapat menjalankan fungsi yang berbeda dalam sebuah tim.

Malen, Ahli Mencari Ruang

Donyell Malen langsung mencuri perhatian setelah mencetak hat-trick pada pertandingan pembuka Roma melawan Fiorentina. Penyerang asal Belanda itu kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu kandidat kuat perebutan gelar top skor Serie A.

Selain ketajamannya di area penalti, salah satu kekuatan terbesar Malen adalah kemampuannya melepaskan diri dari penjagaan dan menemukan ruang sebelum bola diberikan kepadanya.

Pada pekan pertama, di antara para penyerang dengan posisi serupa, hanya Boulayé Dia yang memiliki indeks ketersediaan menerima umpan lebih tinggi dibandingkan Malen. Indikator tersebut menggambarkan kemampuan pemain untuk mencari ruang dan melepaskan diri dari penjagaan tanpa memberikan referensi yang mudah dibaca bek lawan.

Kualitas tersebut terlihat jelas dalam gol ketiga Roma ke gawang Fiorentina. Dalam proses serangan, Malen dengan cepat melepaskan diri dari kawalan Dodô. Ia kemudian memberikan sentuhan untuk membuka ruang bagi Paulo Dybala sebelum kembali bergerak menuju pusat kotak penalti.

Kecepatan dan ledakannya membuat Malen mampu kembali ke area berbahaya sebelum para pemain bertahan Fiorentina mendapatkan posisi ideal.

Dengan kata lain, gol tersebut bukan sekadar lahir dari sentuhan terakhir Malen. Prosesnya sudah dimulai dari kemampuannya membaca ruang dan menentukan kapan harus meninggalkan penjagaan.

Dia, Striker yang Menjadi Kreator

Striker Lazio, Boulayé Dia. (Sumber Foto: sslazio.it)

Jika Malen lebih banyak berperan sebagai eksekutor, Boulayé Dia justru menunjukkan sisi berbeda dari seorang penyerang tengah.

Striker Lazio tersebut tampil sebagai penghubung permainan dan pemberi umpan bagi rekan-rekannya. Kemampuannya menerima bola jauh dari gawang, termasuk dengan posisi membelakangi gawang, membuat Dia berfungsi layaknya pemain pemantul atau target man.

Perannya terlihat dalam proses gol Davide Frattesi yang membantu Lazio meraih kemenangan atas Bologna.

Dia terlibat dalam kombinasi serangan setelah bola diarahkan kepada Frattesi. Dengan satu sentuhan tumit, Dia mengirim bola ke ruang yang tepat untuk pergerakan Frattesi sekaligus melewati tiga pemain bertahan Bologna.

Statistik juga memperkuat peran tersebut. Pada pekan pertama, Dia mencatat empat umpan kunci. Di antara para penyerang, hanya Volpato yang mencatat jumlah lebih tinggi, sementara Dia menyamai catatan Paulo Dybala.

Artinya, Dia tidak hanya bertugas sebagai pemain terakhir yang menyelesaikan serangan. Ia juga menjadi salah satu pusat permainan Lazio.

Pio Esposito, Gambaran Striker Modern

Striker Inter Milan, Pio Esposito. (Sumber Foto: inter.it)

Di antara penampilan Malen dan Dia, Pio Esposito memperlihatkan karakter yang memadukan kedua pendekatan tersebut.

Penyerang muda Inter itu tampil menghadapi Monza dengan kemampuan bermain di ruang panjang maupun pendek. Ia mampu bergerak di area tengah, turun ke area antara lini tengah dan pertahanan, sekaligus kembali masuk ke kotak penalti.

Fisik dan kemampuan duel udara juga menjadi senjata penting Esposito.

Menariknya, Inter pada laga pembuka justru lebih banyak menggunakan serangan vertikal melalui umpan-umpan mendatar menuju striker. Inter hanya melepaskan 16 umpan silang pada laga tersebut, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata hampir 28 umpan silang per pertandingan pada musim sebelumnya.

Salah satu contoh terlihat pada gol Hakan Çalhanoğlu. Lautaro Martínez mengarahkan bola ke Esposito yang kemudian mampu melindungi penguasaan bola meski dikelilingi tiga pemain lawan.

Esposito berhasil mempertahankan bola dan membuka ruang bagi pergerakan Diouf sebelum kembali bergerak menuju kotak penalti. Dari situ, Çalhanoğlu melepaskan tembakan keras yang membuka keunggulan Inter.

Kemampuan melindungi bola sekaligus menghubungkan permainan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Esposito.

Tiga Striker, Tiga Cara Bermain

Malen, Dia, dan Esposito memberikan gambaran bahwa striker modern tidak lagi hanya dinilai berdasarkan jumlah gol.

Malen menunjukkan kualitas sebagai finisher sekaligus pemain yang piawai mencari ruang. Dia memperlihatkan bagaimana seorang striker dapat menjadi kreator dan penghubung permainan. Sementara Esposito menawarkan kombinasi keduanya melalui kemampuan bermain di berbagai area lapangan, kekuatan fisik, dan ancaman di kotak penalti.

Bagi Inter, performa Esposito menjadi kabar positif. Di usia yang masih muda, ia sudah menunjukkan kelengkapan repertoar yang dibutuhkan seorang penyerang modern.

Penampilannya juga menjadi modal penting bagi Cristian Chivu dalam membangun lini depan Inter sekaligus memperkuat prospek Esposito sebagai salah satu calon penyerang penting bagi sepak bola Italia di masa depan. (*/legaseriea.it)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *