PANGKALPINANG, DAN – Berawal dari Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Rini Arianti menempuh perjalanan panjang hingga membangun karier sebagai peneliti di University of Debrecen, Hungaria. Di lingkungan akademik internasional tersebut, ia mendalami biologi sel lemak manusia, khususnya mekanisme transportasi zat besi yang berperan dalam metabolisme tubuh.
Bagi Rini, penelitian bukan sekadar aktivitas di laboratorium. Di balik setiap temuan, terdapat proses panjang yang melibatkan pemahaman dasar biokimia, pengembangan eksperimen, analisis hasil, hingga diskusi dengan komunitas ilmiah internasional. Perjalanan itu mengantarkannya berkolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara, termasuk akademisi dari Harvard University dan University of Copenhagen.
Ketertarikan Rini terhadap dunia sains tumbuh melalui perjalanan pendidikan yang ia tempuh di Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Biokimia di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2012, kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga lulus pada 2015.
Pada 2017, kesempatan untuk memperdalam keilmuannya datang melalui beasiswa penuh Stipendium Hungaricum dari Pemerintah Hungaria. Beasiswa tersebut membawanya menempuh pendidikan doktoral di University of Debrecen.
Setelah meraih gelar doktor pada 2022, Rini melanjutkan karier sebagai peneliti pascadoktoral di Department of Biochemistry and Molecular Biology, Faculty of Medicine, University of Debrecen. Di lingkungan inilah fokus penelitiannya berkembang pada biologi jaringan adiposa atau jaringan lemak, terutama sel adiposit yang memiliki peran penting dalam metabolisme tubuh.
Jaringan lemak kerap dipahami hanya sebagai tempat penyimpanan energi. Padahal, jaringan ini memiliki fungsi biologis yang kompleks dan terlibat dalam berbagai proses metabolisme tubuh.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian Rini adalah mekanisme transportasi zat besi ke dalam sel lemak manusia. Penelitian ini berupaya memahami bagaimana zat besi masuk ke dalam sel dan berkaitan dengan fungsi biologis jaringan adiposa.
Fokus penelitian tersebut membawanya berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional. Pada 2025, Rini mempresentasikan penelitiannya mengenai transportasi zat besi ke dalam sel lemak pada pertemuan European Iron Club di University of Innsbruck, Austria.
Forum tersebut mempertemukan para ilmuwan yang menaruh perhatian pada metabolisme zat besi dan berbagai aspek biologinya. Partisipasi Rini menjadi bagian dari upayanya untuk mendiskusikan hasil penelitian sekaligus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di bidang tersebut.
Perjalanan riset Rini juga ditandai dengan dukungan pendanaan dan perkembangan karier akademik. Pada 2023, ia memperoleh hibah penelitian dari Pemerintah Hungaria senilai sekitar Rp1,5 miliar untuk mengembangkan riset di bidang biologi jaringan lemak manusia.
Pendanaan tersebut menjadi dukungan penting bagi penelitian yang dikembangkannya. Tiga tahun kemudian, pada 2026, Rini mendapat promosi menjadi research associate dan menerima penghargaan keunggulan penelitian melalui program Egyetemi Kutatói Ösztöndíj.
Produktivitas ilmiahnya juga terlihat dari keterlibatannya dalam penulisan lebih dari 20 artikel ilmiah selama enam tahun terakhir. Pada 2026, ia turut menjadi penulis dalam publikasi hasil kolaborasi penelitian yang terbit di jurnal Nature Metabolism dan Science, bersama peneliti dari Harvard University dan University of Copenhagen.
Bagi seorang peneliti, publikasi ilmiah merupakan bagian dari proses untuk menguji, mendiskusikan, dan menyebarluaskan temuan kepada komunitas akademik. Proses tersebut membutuhkan ketekunan, ketelitian, serta kemampuan bekerja sama dengan peneliti yang memiliki latar belakang keahlian berbeda.
Rini juga mengikuti sejumlah konferensi internasional di Eropa dengan dukungan dana perjalanan dari organisasi ilmiah, antara lain EMBO, FEBS, dan Hungarian Biochemical Society.
Selain menjalankan penelitian, Rini turut membangun kelompok riset ADIPOCYTEAM bersama sejumlah peneliti senior. Kelompok ini berfokus pada penelitian sel adiposit dan pengembangan kajian mengenai jaringan lemak manusia.
Aktivitas kelompok tersebut tidak hanya mencakup eksperimen dan diskusi ilmiah, tetapi juga pendampingan mahasiswa yang sedang mengembangkan kemampuan penelitian.
Saat ini, Rini membimbing tiga mahasiswa doktoral, dua mahasiswa magister, dan delapan mahasiswa sarjana. Keterlibatan mahasiswa dalam kelompok riset menjadi bagian penting dalam proses pertukaran gagasan, pengembangan keahlian, dan keberlanjutan penelitian.
Melalui kegiatan tersebut, penelitian tidak hanya bergantung pada kontribusi seorang individu, tetapi juga tumbuh melalui kerja sama, pendampingan, dan pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul selama proses ilmiah berlangsung.
Meski berkarier di Hungaria, Rini tetap menjaga hubungan akademik dengan Indonesia. Ia menjalin kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya IPB University, Universitas Gadjah Mada, Universitas Jember, dan Universitas Tanjungpura.
Kerja sama tersebut telah menghasilkan publikasi ilmiah. Selain itu, keterlibatannya sebagai dosen tamu secara daring membuka kesempatan bagi mahasiswa di Indonesia untuk mengenal perkembangan penelitian yang ia kerjakan di Hungaria.
Sebelum berkarier di luar negeri, Rini pernah mengajar di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Poltekkes Pangkalpinang, Universitas Bangka Belitung, dan Akademi Kebidanan Bangka Belitung.
Pengalaman mengajar tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Kini, di tengah aktivitas penelitian internasional, ia tetap memiliki keterhubungan dengan dunia pendidikan di tanah air, termasuk daerah asalnya, Bangka Belitung.
Perjalanan Rini menuju lingkungan akademik internasional telah dimulai jauh sebelum ia mengenal laboratorium di Hungaria. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah belajar bahasa Inggris.
Ia mengenang sosok Mr. John, pendiri Tidar, yang mendorongnya untuk berani berbicara dalam bahasa tersebut. Kebiasaan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris terus ia jalani sejak kecil hingga menyelesaikan pendidikan doktoral.
Kemampuan bahasa menjadi salah satu bekal ketika Rini memasuki lingkungan akademik internasional. Namun, perjalanan sebagai peneliti juga menuntut lebih dari sekadar kemampuan berkomunikasi. Dibutuhkan kemauan untuk terus belajar, mengembangkan keahlian, serta menghadapi berbagai pertanyaan ilmiah yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana.
Saat ini, Rini tinggal di Debrecen bersama suaminya, Dr. Abdelmalek Taoutioui, seorang peneliti asal Maroko lulusan Sorbonne University yang bekerja di bidang informasi kuantum di Nuclear Research Institute, Debrecen.
Keduanya menjalani kehidupan di lingkungan akademik dengan bidang keilmuan masing-masing. Di tengah kesibukan penelitian, pengalaman tinggal dan bekerja di luar negeri juga menjadi bagian dari perjalanan Rini dalam mengembangkan kapasitas akademik dan memperluas jejaring ilmiah.
Di balik perjalanan akademiknya, Rini tidak melupakan tempat ia berasal. Ia berharap anak-anak muda Bangka Belitung, khususnya perempuan, memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal dunia pendidikan dan berani mengejar bidang yang mereka minati.
Menurutnya, latar belakang dan tempat seseorang dibesarkan tidak seharusnya menjadi batas untuk berkembang. Kesempatan untuk belajar, keberanian mengambil peluang, dan kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan dapat membuka jalan menuju berbagai kemungkinan.
Perjalanan Rini menjadi gambaran tentang proses panjang dalam membangun karier di dunia penelitian. Dari Pangkalpinang, ia melanjutkan pendidikan ke sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, meraih kesempatan studi doktoral di Hungaria, hingga mengembangkan penelitian dan berkolaborasi dengan komunitas ilmiah internasional.
Bagi Rini, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Dunia penelitian selalu menghadirkan pertanyaan baru yang membutuhkan ketekunan, keterbukaan, dan semangat untuk terus belajar. Dari laboratorium di Hungaria, ia terus mengembangkan keilmuannya sekaligus menjaga hubungan dengan dunia pendidikan di Indonesia, tanah tempat perjalanan akademiknya bermula. (*/red)















