Konon, di sebuah negeri yang jauh dari peta, berdirilah Kerajaan Pajakia.
Negeri ini memiliki kebiasaan yang unik. Setiap kali lumbung kerajaan kosong, para penasihat istana tidak pernah bertanya mengapa persediaan habis. Mereka juga tidak pernah menghitung berapa banyak gandum yang tercecer di jalan atau hilang di gudang.
Yang selalu mereka lakukan hanyalah menggelar rapat singkat.
“Naikkan upeti.”
Begitulah keputusan yang hampir selalu lahir.
Rakyat pun bertanya, “Apakah lumbung kosong karena hasil panen berkurang?”
“Bukan.”
“Apakah karena musim paceklik?”
“Juga bukan.”
“Lalu mengapa?”
Para penasihat hanya saling memandang. Sebagian sibuk merancang pesta kerajaan baru, sebagian lagi memesan kereta emas yang lebih mewah, sementara beberapa pengawal tertangkap diam-diam membawa karung gandum ke rumah mereka sendiri.
Namun semua itu dianggap bukan persoalan yang mendesak.
Yang mendesak adalah memastikan rakyat membayar lebih banyak.
Aneh memang. Di Pajakia, kebocoran atap tidak pernah diperbaiki. Ember yang diletakkan di bawahnya justru dibuat lebih besar agar mampu menampung air yang terus menetes.
Lama-kelamaan rakyat menyadari satu hal. Masalah kerajaan bukan semata-mata kekurangan gandum. Masalahnya adalah terlalu banyak tikus yang hidup nyaman di lumbung, sementara para penjaga sibuk menghitung berapa banyak lagi gandum yang bisa diminta dari para petani.
Seorang anak kecil kemudian bertanya kepada ayahnya,
“Mengapa raja tidak mengusir tikus-tikus itu?”
Sang ayah tersenyum pahit.
“Mungkin karena lebih mudah meminta gandum kepada petani daripada menangkap tikus di dalam istana.”
Dan begitulah kisah Pajakia terus berulang dari musim ke musim.
Lumbung tak pernah benar-benar penuh, tikus tetap berpesta, dan rakyat selalu diminta percaya bahwa upeti yang lebih besar adalah jalan menuju kemakmuran.
Padahal, siapa pun tahu, seberapa banyak pun gandum dikumpulkan, lumbung tidak akan pernah penuh jika lubangnya sengaja dibiarkan terbuka. (*)














