BELITUNG, DAN – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Hidayat Arsani menghadiri kegiatan adat Maras Taun yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal Idulfitri 1447 H/2026 M di kediaman Pak Dukun Ulim, Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, Minggu (5/4/2026). Gubernur menegaskan pentingnya pelestarian tradisi sebagai sarana memperkuat kebersamaan dan nilai gotong royong di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Gubernur menyebut Maras Taun sebagai simbol kuat kebersamaan yang sarat nilai spiritual dan sosial. Ia menilai tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga di tengah perkembangan zaman.
“Maras Taun ini memiliki nilai spiritual sebagai bentuk rasa syukur dan harapan masyarakat kepada Allah SWT, sekaligus cerminan kearifan lokal yang harus terus kita lestarikan,” ujarnya.
Gubernur juga mengapresiasi peran Forum Kedukunan Adat Belitung yang dinilai konsisten menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Belitung dan Belitung Timur. Menurutnya, keberadaan forum tersebut berkontribusi menciptakan kehidupan yang rukun, aman, dan harmonis.
“Saya bangga dapat hadir dan beramah tamah di tengah-tengah masyarakat terutama dengan para dukun kampung se Pulau Belitung. Tugas kita bersama adalah menjaga desa, jangan sampai ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi,” ujarnya.
Memasuki hampir 12 bulan masa kepemimpinannya sebagai Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, ia mengakui masih terdapat berbagai kekurangan yang perlu dibenahi. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu demi kemajuan daerah.
“Saya sebagai Gubernur Babel, jika ada salah mohon dimaafkan. Mari kita katakan Indonesia bersatu, Babel bersatu, dan semua dukun bersatu, untuk Babel aman dan sejahtera,” tambahnya.
Pemprov Babel, lanjutnya, akan terus mendukung pelestarian nilai-nilai budaya dan tradisi daerah. Upaya ini dinilai penting dalam memperkuat jati diri sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di akhir sambutannya, Gubernur mengajak masyarakat untuk menjaga kekompakan, memperkuat semangat gotong royong, serta meningkatkan produktivitas di berbagai sektor kehidupan.
Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kehangatan dengan dihadiri Kamarudin Muten, para dukun kampung se-Pulau Belitung, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya. Acara diisi dengan doa bersama, prosesi adat, serta ramah tamah dengan masyarakat setempat.
Sementara itu, Ketua FKAB, Muktie Maharip menegaskan bahwa ritual Maras Taun merupakan tradisi turun-temurun yang harus terus dijaga. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk syukuran sekaligus upaya menjaga keharmonisan masyarakat.
“Ini acara rutin kami tiap tahun, syukuran atau selamat kampung. Kami meneruskan adat budaya zaman dulu dan akan terus kami pelihara untuk menjaga keharmonisan,” ungkapnya.
Muktie menjelaskan bahwa FKAB menjadi wadah pemersatu para dukun kampung agar tradisi tidak hilang ditelan zaman. Selain itu, forum tersebut juga berperan menjaga nilai-nilai adat tetap hidup dan dihormati oleh generasi sekarang.
“Keberadaan persatuan dukun Belitung ini untuk menjaga jangan sampai adat istiadat kita hilang. Kita menghargai dan menghormati mereka, walaupun mereka tidak ada,” harapnya.
Lebih lanjut, Muktie menekankan bahwa nilai kebersamaan dan gotong royong dalam Maras Taun tetap relevan di era modern. Tradisi ini dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat solidaritas masyarakat Belitung. (*/red)













