Pangkalpinang

Pengelolaan Sampah di Pangkalpinang Menurun, Perbedaan Pelayanan Masa Molen dan Sekarang Jadi Sorotan

×

Pengelolaan Sampah di Pangkalpinang Menurun, Perbedaan Pelayanan Masa Molen dan Sekarang Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, DAN – Pengangkutan sampah di Kota Pangkalpinang kini mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini membuat tumpukan sampah kembali menjadi masalah utama di berbagai pemukiman.

Warga mengeluhkan frekuensi pengambilan sampah yang hanya tiga sampai lima hari sekali. Hal ini sangat berbeda dengan masa kepemimpinan Wali Kota Maulan Aklil (Molen) yang rutin dilakukan setiap hari atau dua hari sekali.

Pantauan di beberapa kawasan seperti Kecamatan Taman Sari, Girimaya, dan Bukit Intan menunjukkan tumpukan sampah mulai berserakan di pinggir jalan dan depan rumah warga. Kondisi ini semakin memperburuk kualitas lingkungan dan mengganggu kenyamanan warga setempat.

“Dulu zaman Pak Molen hampir setiap hari sampah diangkut, sekarang bisa tiga hari baru diambil. Kalau hujan, sampah jadi berserakan dan bau,” kata Ahmad, warga Komplek BTN Air Itam.

Keluhan serupa disampaikan Siti dari Perumahan Kacang Pedang. Ia menilai pelayanan kebersihan saat ini jauh dari kata maksimal, terutama di kawasan padat penduduk.

“Dulu ada call center pengaduan yang responsif dari DLH, sekarang pesan lewat WA sering tidak dibalas, dan petugas bilang armada kurang,” tambahnya.

Di era Molen, pengelolaan sampah menjadi fokus utama pemerintah kota dengan berbagai program seperti kampanye kebersihan dan pembentukan bank sampah. Selain itu, pemerintah juga menyediakan layanan call center 24 jam yang sangat responsif terhadap pengaduan warga. Molen dikenal sering turun langsung melakukan bersih-bersih bersama petugas kebersihan, menunjukkan komitmen tinggi terhadap kebersihan kota.

“Pak Molen sering turun langsung, bersih-bersih bareng petugas. Kalau sekarang kayaknya nggak kelihatan lagi,” ujar Yuni, warga Pasir Putih.

Namun kondisi kini berbeda. Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang menyebut pengurangan frekuensi pengangkutan sampah sebagai dampak keterbatasan anggaran pasca-pilkada ulang dan defisit APBD. Selain itu, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam juga sudah kelebihan kapasitas dengan tumpukan sampah mencapai lebih dari 20 meter.

Pemerintah kota telah mengajukan Raperda Pengelolaan Sampah dan mendorong pembentukan bank sampah di tiap kecamatan. Namun, pelaksanaannya belum efektif menyelesaikan masalah yang ada di lapangan.

Firman, tokoh masyarakat Taman Bunga, berharap agar jadwal pengangkutan sampah dikembalikan seperti dulu.

“Warga sudah bayar retribusi, tolong hak kami untuk lingkungan bersih juga dijaga,” ujarnya.

Krisis pengelolaan sampah ini menjadi tantangan serius bagi Pemkot Pangkalpinang dalam menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Banyak pihak berharap keseriusan yang pernah ditunjukkan di masa kepemimpinan Molen dapat menjadi inspirasi untuk mengatasi persoalan yang kembali mengancam kota ini. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *