PANGKALPINANG, DAN – Kota Pangkalpinang mencatat 88 kasus HIV/AIDS dan 583 kasus tuberkulosis (TBC) hingga September 2026. Data tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan penyakit menular melalui kolaborasi lintas sektor.
Selain HIV/AIDS dan TBC, tercatat pula 11 kasus malaria serta 14 kasus ibu hamil dengan hasil pemeriksaan hepatitis reaktif. Dari 88 kasus HIV/AIDS, sebanyak 16 kasus dialami perempuan dan 72 kasus laki-laki. Sementara itu, 48 kasus pada laki-laki disebut berkaitan dengan hubungan sesama jenis.

Penguatan koordinasi tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Lintas Program dan Lintas Sektor dalam rangka Sosialisasi Penguatan Integrasi AIDS, HIV, Tuberkulosis, Malaria, dan Hepatitis (ATMH) dalam implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP). Kegiatan yang diprakarsai Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang itu dibuka langsung oleh Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, yang sekaligus hadir sebagai narasumber di Ballroom Grand Safran Hotel, Selasa (3/11/2026).
Dalam sambutannya, Saparudin menegaskan bahwa penanganan penyakit menular tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga masyarakat, sektor swasta, institusi pendidikan, hingga komunitas agar upaya pencegahan dan pengobatan dapat berjalan secara terintegrasi.
Ia juga memaparkan tiga fokus utama dalam implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP). Pertama, penerapan pendekatan siklus hidup sebagai fokus integrasi pelayanan kesehatan. Kedua, perluasan akses layanan melalui penguatan jejaring kesehatan di tingkat kelurahan. Ketiga, penguatan pemantauan wilayah setempat melalui pemanfaatan dashboard situasi kesehatan di setiap kelurahan.

“Semoga dengan pertemuan ini kita dapat meningkatkan koordinasi, sinergi dan kolaborasi antara dinas-dinas terkait hingga kecamatan dan kelurahan dalam pencegahan dan pengobatan ATMH,” ujar Saparudin.
Menurutnya, penguatan jejaring pelayanan di luar fasilitas kesehatan menjadi bagian penting untuk memperluas jangkauan informasi dan layanan kepada masyarakat. Lingkungan pendidikan, kelurahan, serta komunitas diharapkan dapat mengambil peran dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan pengendalian penyakit menular.
Pertemuan tersebut diikuti sekitar 80 peserta yang berasal dari lintas program Dinas Kesehatan, unit pelaksana teknis (UPT), serta perwakilan sektor nonkesehatan. Kegiatan ini juga menghadirkan Wali Kota Pangkalpinang, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pangkalpinang, dan Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang sebagai narasumber.

Pelaksanaan kegiatan didukung melalui pendanaan hibah Global Fund dalam program Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH). Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Pangkalpinang berharap koordinasi lintas sektor semakin kuat sehingga upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan HIV/AIDS, TBC, malaria, serta hepatitis dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan. (*/tim)














