BELITUNG TIMUR, DAN – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) mematangkan langkah strategis menjadikan Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, sebagai pusat pembelajaran (learning center) nasional transformasi lahan pascatambang. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mendorong model pemulihan lahan yang tidak hanya ekologis, tetapi juga bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov Babel, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Federal Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) Jerman. Fokus utama kerja sama ini adalah menciptakan model bisnis pedesaan berkelanjutan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah.
Pengembangan ini tidak dimulai dari nol. Desa Dendang telah lebih dulu memiliki inovasi lokal berupa padi apung di kolong bekas tambang, yang menjadi fondasi penting dalam penyusunan peta jalan program.
Keberhasilan inisiatif swadaya tersebut menunjukkan bahwa kolong bekas tambang memiliki potensi ekonomi produktif jika dikelola dengan pendekatan inovatif dan dukungan teknologi yang tepat. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa transformasi pascatambang dapat dilakukan secara konkret di tingkat desa.
Saat ini, proyek tersebut memasuki tahap finalisasi dokumen kerja sama. Secara paralel, tim gabungan dari Bappenas, Bappelitbangda Babel, dan BGR Jerman tengah melakukan kajian dasar (baseline assessment) untuk memetakan kondisi biofisik, sosial, ekonomi, serta potensi pengembangannya sebelum implementasi penuh dilakukan.
Kepala Bappelitbangda Babel, Dr. Joko Triadhi, M.Si. menegaskan bahwa peran pemerintah provinsi sebagai Penanggung Jawab Area merupakan bagian dari mandat Gubernur dalam mendukung program strategis nasional. Pemerintah provinsi juga berperan sebagai penghubung antar pemangku kepentingan agar program berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami menjalankan mandat Gubernur untuk mengawal kegiatan ini secara penuh. Fokus kami adalah menjadi jembatan bagi seluruh pemangku kepentingan, mengingat langkah ini beririsan langsung dengan program prioritas Gubernur terkait reklamasi tambang berkelanjutan,” ujarnya saat menerima kunjungan tim Bappenas dan BGR Jerman, pekan lalu.
Meski berlokasi di Belitung Timur, program ini dirancang dalam skala regional. Pemerintah provinsi terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur dan para pemangku kepentingan lokal guna memastikan sinkronisasi serta dukungan implementasi di lapangan.
Desa Dendang diproyeksikan menjadi model rujukan bagi wilayah lain di Babel. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada sistem yang aplikatif dan mudah direplikasi oleh masyarakat maupun pelaku industri.
Program ini juga diarahkan untuk mendukung implementasi ekonomi sirkular serta penguatan program unggulan daerah, termasuk reklamasi pascatambang dan pengembangan 20 desa wisata. Dengan demikian, manfaatnya diharapkan tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga berdampak luas bagi pembangunan daerah.
Joko menegaskan bahwa transformasi lahan pascatambang merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan perencanaan matang dan konsistensi pelaksanaan. Fokus utamanya adalah mengawal transisi ekonomi dari ketergantungan pada sektor tambang menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
“Strategi yang kami usung bukan sekadar aktivitas menanam secara fisik. Kami berupaya memastikan lahan pascatambang kembali menjadi ekosistem produktif yang tidak hanya lestari secara ekologis, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya. (*/red)













