FeatureHeadlinePangkalpinang

PT TIMAH Tbk: Fondasi Ekonomi yang Menata Masa Depan Babel

×

PT TIMAH Tbk: Fondasi Ekonomi yang Menata Masa Depan Babel

Sebarkan artikel ini

SEJARAH Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang industri timah. Jauh sebelum provinsi ini resmi berdiri pada tahun 2000, aktivitas pertambangan telah menjadi pusat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dari masa kolonial hingga era BUMN, PT TIMAH Tbk—yang bertransformasi dari perusahaan tambang kolonial menjadi perusahaan negara—turut membentuk wajah pembangunan di pulau-pulau timah ini.

Industri timah telah menumbuhkan kota-kota, menghidupkan pelabuhan, membuka jalur perdagangan, dan menarik gelombang pekerja sejak awal abad modern. Ketika wacana pemekaran daerah mencuat pada akhir 1990-an, potensi timah menjadi salah satu alasan kuat yang meyakinkan bahwa Bangka dan Belitung memiliki kapasitas fiskal serta kekuatan industri untuk berdiri sebagai provinsi sendiri. Kontribusi PT TIMAH Tbk terhadap PNBP, perpajakan daerah, dan pembangunan sosial-ekonomi memberi fondasi penting bagi perjuangan pembentukan provinsi.

Dalam masa transisi menjelang pemekaran, peranan PT TIMAH Tbk tidak hanya sebatas kegiatan operasional. Perusahaan turut mendukung pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, fasilitas umum, hingga sarana pendidikan yang mempercepat kesiapan Babel menjadi provinsi baru. Ketika DPR RI menetapkan berdirinya Provinsi Babel pada tahun 2000, semangat kemandirian ekonomi berbasis industri timah menjadi bagian dari pemikiran utama.

Salah satu tokoh Presidium Pembentukan Provinsi Babel, Agus Adaw, masih mengingat jelas kontribusi perusahaan pada masa itu. Ia menegaskan bahwa peranan PT TIMAH Tbk sudah dirasakan bahkan sebelum pemekaran kabupaten dilakukan.

“Sebelum Bangka Belitung menjadi provinsi, PT TIMAH Tbk sudah berbuat. Contoh, sebelum ada Bangka Selatan itu sudah ada wilayah produksi. Sebelum ada Kabupaten Bangka Barat, sudah ada wilayah produksi di Muntok. Jadi peranan PT TIMAH Tbk ini sudah dari awal,” katanya.

Agus Adaw bahkan mengungkapkan bahwa PT TIMAH Tbk memberikan dukungan penting dalam perjuangan pembentukan provinsi melalui anggaran.

“Kalau peranan PT TIMAH Tbk dalam perjuangan pembentukan Bangka Belitung, itu nomor satu. PT TIMAH itu membantu perjuangan ini dengan anggaran. Dulu sekilo timah seribu. Jadi bisa bayangkan berapa produksinya pada tahun 1999 sampai 2000. Itulah duitnya,” ujarnya.

Agus Adaw menitipkan pesan bahwa masyarakat dan pejabat daerah perlu mengingat sejarah panjang tersebut.

“Kalau hari ini ada yang mengkhianati atau menodai PT TIMAH Tbk, mereka tidak bersyukur. Ingat, di pundak para pejabat di Provinsi itu ada sebutir pasir timah,” pesannya.

Pandangan serupa juga disampaikan tokoh masyarakat Bangka Belitung, Apik Chakip Rasjidi. Ia menekankan bahwa industri timah telah berkontribusi jauh sebelum provinsi ini terbentuk.

“Industri timah secara keseluruhan telah membangun sekolah, timah yang bikin jalanan. Jangan kita lupakan itu. Sebagai BUMN, PT TIMAH Tbk harus bersinergi dengan masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah BEM SI Sumbagsel, Ikbal menyoroti komitmen perusahaan melalui keberadaan kantor pusat di Babel.

“PT TIMAH Tbk di Bangka Belitung ini sudah lama. Kantor pusatnya ada di sini. Biasanya perusahaan besar hanya punya cabang di daerah, tapi PT TIMAH Tbk justru berkantor pusat di Babel. Perjalanan PT TIMAH Tbk bersama Bangka Belitung sudah luar biasa meski dalam perjalanannya ada pro dan kontra,” katanya.

Ikbal berharap perusahaan membuka lebih banyak ruang bagi pendidikan dan tenaga kerja lokal.

“Kami berharap semua anak bisa mengenyam pendidikan, termasuk yang tidak mampu. Kami juga berharap PT TIMAH Tbk bisa melirik potensi SDM lokal. Banyak bibit unggul di Babel ini,” harapnya.

Ketua KNPI Babel, Zamzami, memandang usia 25 tahun Babel sebagai periode penting yang menunjukkan kemajuan, namun masih menyisakan banyak ruang berkembang.

“Infrastruktur semakin membaik, pariwisata tumbuh pesat. Tetapi tantangannya masih besar: ketergantungan ekonomi yang tinggi pada tambang, pemerataan pembangunan antarpulau yang belum merata, serta lapangan kerja kreatif dan industri hilir yang perlu diperluas,” katanya.

Zamzami juga menyampaikan harapan pemuda terhadap transformasi PT TIMAH Tbk.

“Pemuda mengharapkan PT TIMAH Tbk menjadi perusahaan yang bukan hanya berorientasi produksi, tetapi juga masa depan: lebih berkelanjutan, transparan, dan membantu transformasi ekonomi daerah,” ujarnya.

Memasuki era hilirisasi, PT TIMAH Tbk kini memperkuat tata kelola pertambangan, mengembangkan hilirisasi mineral, serta memanfaatkan mineral ikutan dan logam tanah jarang yang membuka peluang ekonomi baru bagi Babel. Kontribusi terhadap PNBP, pajak daerah, serta program CSR di bidang pendidikan, kesehatan, UMKM, sarana publik, hingga rehabilitasi lingkungan menjadi bagian dari upaya perusahaan memastikan manfaat industri timah terus berlanjut.

Corporate Secretary PT TIMAH Tbk, Rendi Kurniawan, menegaskan komitmen tersebut.

“PT TIMAH Tbk adalah bagian yang tak terpisahkan dari Bangka Belitung. Perusahaan terus meneguhkan komitmennya untuk mendukung kemajuan masyarakat dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sehingga bisa mewujudkan Bersatu Bersama untuk Babel Berdaya,” ujarnya.

Perjalanan panjang PT TIMAH Tbk dan Bangka Belitung adalah kisah yang saling bertaut—kisah tentang bagaimana sebuah industri tidak hanya membentuk ekonomi, tetapi juga berperan dalam lahirnya sebuah provinsi. Dua puluh lima tahun sejak Babel berdiri, PT TIMAH Tbk tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat, bukan hanya sebagai catatan sejarah masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari masa depan pembangunan daerah. (*/timah.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *